kabartuban.com – Harapan petani di Desa Wolutengah dan Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, untuk memanen jagung mulai terancam. Tanaman yang baru berusia sekitar 50 hari dan mulai memasuki fase berbuah justru menjadi sasaran serangan hama tikus.
Bukan hanya satu-dua tanaman. Serangan tikus disebut terjadi cukup masif hingga membuat petani harus berulang kali melakukan pengendalian secara mandiri.
Ahmad, salah seorang petani, mengaku tanaman jagung miliknya yang telah dirawat selama hampir dua bulan rusak setelah diserang tikus. Buah jagung yang mulai terbentuk habis digerogoti.
“Ini saya tanam sekitar 50 hari, habis diserang tikus,” ujarnya
Kondisi serupa dialami Harsono. Berbagai cara telah dilakukan bersama petani lain untuk menghentikan pergerakan tikus, mulai dari memasang penghalang, memburu tikus hingga menggunakan racun.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi serangan. Populasi tikus yang masih tinggi membuat hama tersebut kembali masuk ke lahan pertanian.
“Kami juga memburu, juga memberi racun tikus. Tapi tikus-tikus itu masih banyak yang berdatangan,” katanya.
Kepala Desa Wolutengah, Rasdan, membenarkan serangan hama tikus tersebut. Menurutnya, kawasan pertanian di sisi selatan Desa Wolutengah hampir merata terdampak.
Dampaknya tidak hanya dirasakan petani Wolutengah, tetapi juga petani dari Desa Gaji. Diperkirakan sekitar 500 petani berada di kawasan yang terdampak serangan hama tersebut.
Pemerintah desa kemudian berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP2P) Tuban untuk mendapatkan bantuan rodentisida atau racun tikus.
Rasdan mengatakan, bantuan tersebut telah mendapat persetujuan dan sedang diproses oleh pemerintah daerah melalui pemerintah provinsi.
“Sudah di-ACC, Senin obatnya (racun tikus, red.) diambil oleh dinas di Surabaya, Rabu kira-kira sudah sampai ke Kerek,” jelasnya.
Bagi petani, kedatangan bantuan tersebut menjadi penting karena serangan terjadi saat tanaman mulai memasuki fase pembentukan buah. Jika tidak segera dikendalikan, kerusakan tanaman berpotensi semakin meluas dan mengganggu hasil panen.
Kepala DKP2P Tuban, Eko Julianto, mengatakan pemerintah daerah tengah menyiapkan rodentisida untuk mendukung pengendalian hama tikus. Obat tersebut nantinya akan didistribusikan kepada kelompok tani untuk digunakan secara bersama-sama.
Eko mendorong pengendalian dilakukan secara serentak dan berbasis kawasan. Menurutnya, pengendalian yang hanya dilakukan oleh satu-dua petani berpotensi kurang efektif karena tikus dapat berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya.
“Kami mengimbau semua Poktan melakukan gerakan pengendalian berbasis kawasan. Obatnya dari Pemkab,” ujarnya.
Berdasarkan pemetaan sementara, serangan hama tikus telah ditemukan di sedikitnya 14 kecamatan di Kabupaten Tuban.
Pemerintah berharap gerakan pengendalian secara serentak dapat menekan populasi tikus sekaligus menjaga produktivitas tanaman pangan petani.
Serangan hama tikus di kawasan Wolutengah dan Gaji sebenarnya bukan persoalan baru. Sekitar dua bulan sebelumnya, petani di wilayah tersebut juga telah mengeluhkan serangan serupa.
Saat itu, petani mencoba berbagai cara untuk melindungi tanaman, seperti memasang plastik, jaring hingga lembaran seng sebagai pembatas. Namun, cara tersebut belum sepenuhnya efektif.
Tikus bahkan disebut mampu menjebol pembatas plastik dan melompati seng yang dipasang petani.
Unit Pelayanan Teknis Daerah Penyuluh Pertanian Lapangan (UPTD-PPL) Kecamatan Kerek, Sunarto, mengatakan saat ini pengendalian masih dilakukan secara swadaya oleh petani.
Setelah bantuan rodentisida tiba, pengendalian akan dilakukan secara bersama-sama agar hasilnya lebih efektif.
“Ini sekarang petani masih melakukan pengendalian tikus secara swadaya,” ujarnya.
Selain menggunakan rodentisida, petani juga didorong memanfaatkan predator alami tikus, seperti burung hantu dan ular sawah.
Menurut Sunarto, DKP2P Tuban telah mengajukan proposal bantuan pembangunan rumah burung hantu (rubuha). Namun, untuk tahun ini, bantuan tersebut baru dapat direalisasikan di Kecamatan Bancar.
“Semoga 2027 di Kerek bisa terealisasi,” harapnya.
Serangan yang kembali terjadi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi petani dan pemerintah. Di tengah upaya memperkuat ketahanan pangan, petani justru harus menghadapi ancaman dari hama yang dapat memangkas hasil panen sebelum jagung sempat dipetik. (fah)
