Jalan Desa Kepohagung Rusak dan Berdebu, Warga Keluhkan Lalu Lalang Truk Tambang

kabartuban.com – Aktivitas lalu lalang truk bermuatan material di jalan desa Dusun Penebusan, Desa Kepohagung, Kecamatan Plumpang, dikeluhkan warga. Selain memicu debu tebal saat musim kemarau, jalan yang dulunya beraspal kini rusak hingga berubah menjadi jalan makadam.

Bagi warga yang tinggal di sepanjang ruas jalan tersebut, kondisi itu bukan lagi persoalan sesaat, melainkan telah menjadi rutinitas yang harus dihadapi setiap hari. Ketika kemarau, debu beterbangan hingga masuk ke dalam rumah. Sebaliknya saat hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan lumpur yang menyulitkan aktivitas warga.

Salah seorang warga yang enggan di sebutkan namanya mengaku rumahnya hampir setiap hari dipenuhi debu setiap kali truk melintas.

“Setiap ada truk lewat, debunya sampai masuk ke dalam rumah. Halaman juga selalu kotor,” ujarnya, Rabu (5/8/2026).

Menurutnya, kerusakan jalan mulai terjadi sejak jalur tersebut rutin dilintasi kendaraan bertonase besar yang mengangkut material tambang.

“Dulu jalan ini beraspal. Sekarang rusak dan seperti jalan makadam,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ruas jalan tersebut tercatat sebagai jalan desa. Warga menilai meningkatnya aktivitas kendaraan tambang menjadi salah satu penyebab kerusakan infrastruktur yang hingga kini belum mendapat penanganan menyeluruh.

Persoalan ini sebenarnya pernah dibahas dalam pertemuan antara Pemerintah Desa Kepohagung dan perwakilan PT Timbul Jaya Persada. Dalam pertemuan tersebut, perusahaan disebut menawarkan skema perbaikan jalan dengan pembiayaan bersama atau fifty-fifty. Sementara sebagian warga berharap kerusakan jalan dapat dipulihkan sepenuhnya oleh pihak yang memanfaatkan akses tersebut.

Menanggapi keluhan masyarakat, kepala K3 PT Timbul Jaya Persada, Dika, meminta agar terlebih dahulu dipastikan asal kendaraan yang melintas di jalan tersebut.

“Dipelajari lagi itu truk-truk yang melintas milik siapa. Yang jelas, PT Timbul sudah melakukan pembasahan jalan setiap hari,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Ia juga membantah anggapan bahwa debu sepenuhnya berasal dari aktivitas perusahaan. Menurutnya, di kawasan tersebut terdapat sejumlah perusahaan lain yang juga menggunakan jalur yang sama.

“Debu tidak bisa langsung dikaitkan dengan PT Timbul karena di wilayah itu ada beberapa perusahaan. Kami tetap berkomitmen meminimalkan debu dengan melakukan penyiraman setiap hari,” jelasnya.

Terkait kondisi jalan yang rusak, Dika menyebut ruas tersebut tidak hanya dilalui kendaraan milik PT Timbul Jaya Persada.

“Jalur itu dipakai bersama. Ada sekitar delapan perusahaan yang juga melintas di sana. Biasanya kalau ada keluhan, warga langsung datang ke PT Timbul,” katanya.

Di sisi lain, warga berharap seluruh perusahaan yang memanfaatkan jalan desa tidak saling melempar tanggung jawab. Mereka meminta ada solusi konkret agar kerusakan jalan segera diperbaiki dan dampak debu terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat dapat diminimalkan.

Bagi masyarakat Dusun Penebusan, persoalan ini bukan sekadar jalan rusak, tetapi juga menyangkut kenyamanan, keselamatan, dan hak warga untuk menikmati lingkungan yang layak di tengah aktivitas industri yang terus berlangsung. (fah)

Banner

Berita Terbaru

Artikel Lainnya