“Nekeran” Masih Digemari Anak Kota

562

cahnekeran copykabartuban.com – Dunia anak – anak terus berkembang sepanjang jaman. Permainan mereka pun tak henti “berevolusi”. Kendati game digital  kini menjadi pilihan utama bagi sebagian besar anak – anak negeri ini, permainan tradisional masih banyak dimainkan oleh sebagian anak di kota Tuban.

Permainan kelereng misalnya, masih tampak dimainkan oleh anak – anak di kota Tuban ini. Kelereng yang lebih dikenal dengan nekeran, merupakan permainan yang seolah turun temurun dilakukan oleh berbagai generasi. Butiran – butiran kaca tersebut saling dilempar dan ditembakan, beradu ketangkasan melempar kelereng, hingga pemenang pun akan mengumpulkan pundi – pundi kelereng yang dihasilkan dari permainan tersebut.

Di salah satu perkampungan di Kelurahan Sidorejo Kecamatan Kota Tuban, sekumpulan anak kecil tampak asyik bermain kelereng. Mereka seolah tak menghiraukan hiruk – pikuk game digital yang saat ini lebih dipilih oleh anak – anak seusia mereka, Rabu (26/8/2014).

Kepada wartawan media ini, Supriyo (10) mengatakan, “nekeran itu asyik mas. Aku punya banyak sekali kelereng di rumah. Sebagian dapat dari beli, dan sebagian hasil menang nekeran sama teman – teman,” ungkapnya dengan sedikit tersendat kata.

Ditanya tentang Play Station, Supri mengatakan, “Main PS emang enak juga mas, tapi bayare mahal dan gampang bosen aku. Nggak seru kayak nekeran rame – rame ini,” ucapnya lugu sambil tertawa.

Indonesia yang dikenal cukup kaya dengan ragam budaya hingga ragam permainan tradisional anak – anak, kini harus menghadapi kenyataan tersungkurnya sejumlah tradisi permainan anak oleh modernisasi permainan yang kini dikenal dengan game. Tidak hanya Play Station, game digital yang kini juga membanjiri gadget, seolah menjadi candu baru bagi anak – anak bahkan orang dewasa yang kepincut dengan game. Meski tidak sampai membumi hanguskan permainan tradisional, game digital telah menjadi budaya baru dan menggusur lebih dari 50 % dunia permainan anak – anak.

Seperti halnya Supri, Aldi (13) mengatakan, “Main game memang enak mas, tapi sebenarnya tetap seru main kelereng rame – rame seperti ini. Selain main, kita juga bisa kumpul – kumpul sama teman – teman dan termasuk olah raga juga mas, keluar keringat dan bikin sehat,” tutur Aldi saat ditemui di sela – sela permainan kelereng.

Sementara itu, salah seorang tokoh muda kampung setempat, Ilhamsah mengatakan, “Main game sama nekeran seperti ini, menimbulkan efek yang berbeda untuk anak – anak. Kebanyakan yang saya lihat, mereka yang sudah cenderung larut dalam permainan game digital baik PS maupun game online, banyak yang terbentuk menjadi karkter individual dan pembelajaran sosialnya kurang,” ucapnya.

“Berbeda dengan permainan kelereng ini, dengan mainan yang mereka sebut nekeran ini, mereka akan berkumpul langsung dengan teman – temannya. Mereka bersosialisasi dan mulai belajar berinteraksi. Ada pembelajaran kebersamaan, kerukunan, ketangkasan, berpikir cepat, dan berkonsentrasi dalam menjalani sesuatu. Tentu saja hal itu akan sangat bermanfaat untuk anak – anak nanti,” paparnya lebih lanjut.

Di kota Tuban yang termasuk kota tua di Jawa Timur ini, masih banyak sekali permainan tradisional yang dimainkan oleh anak – anak. Meskipun tidak semeriah 15 atau 20 tahun yang lalu, pergantian musim mainan masih bisa ditemui di Tuban. Musim layangan misalnya, jika musim ini datang, anak – anak di Tuban akan mulai menggulung benang dan menerbangkan layang – layang mereka. Selain layangan, ada pula nekeran, obak sodor, lompat karet, bekelan, dan mainan tradisional anak – anak lainnya yang masih terwariskan.

Menurut sejumlah pendapat para orang tua di Kota Tuban, mainan tradisional anak – anak tidak sekedar mainan. Namun sebagian besar permainan itu memiliki filosofi yang sebenarnya dapat dikaji dan menjadi ilmu kehidupan yang bermanfaat. (im)