Nelayan Berharap Pemerintah Beri Subsidi Langsung

391
Cuaca yang belum mendukung sebabkan produktivitas nelayan menurun. (foto:sudra bektinegra)

Kabartuban.com—Tampaknya Tuhan Yang Maha Esa memang benar-benar menguji kesabaran nelayan di perairan Kabupaten Tuban. Produktivitas mereka terus merosot tiga tahun terakhir. Selain lantaran terusik gegap-gempitanya industrialisasi, cuaca pun tak kunjung membaik. Sejumlah nelayan yang kebetulan bertemu kabartuban.com, Selasa (15/5), mengeluh sebab tak lagi mampu memenuhi kebutuhan harian keluarganya. “ Barang-barang yang ada di rumah sudah hamper ludes. Ya mau gimana lagi, kami sering nggak melaut. Melaut pun hasilnya nggak seberapa. Ya apa saja yang kami punya, kalau laku dijual ya kami jual, buat makan dan bayar sekolah anak-anak,” keluh Samsuri, nelayan di Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Tuban Kota.

Samsuri mengaku sangat berharap Pemerintah memberi subsidi langsung pada nelayan. Sebab, produktivitas nelayan yang merosot tersebut dikarenakan factor alam, bukan lantaran nelayan yang malas melaut. “ Kalau petani dapat ganti rugi karena tanamannya gagal panen, harusnya nelayan seperti saya ini juga dapat ganti rugi karena nggak bisa melaut. Kan sama-sama warga Negara Indonesia,” kata Samsuri.

Nelayan lain tentu bersepakat dengan Samsuri. Miskan, misalnya. Nelayan warga Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu ini mengaku tak beda jauh nasibnya dengan Samsuri dan nelayan lain di perairan Tuban. Tiga tahun terakhir, kata Miskan, untuk mendapat hasil tangkapan sebanyak lima kilogram saja susahnya bukan main. Padahal dengan hasil 10 kg saja Miskan mengaku masih rugi. “ Kalau dapat ikan 10 KG, saya bisa bawa pulang Rp 15-20 ribu. Itu kalau harga ikan bagus. Kalau harga ikan jatuh ya impas,” tutur Miskan.

Memang untuk keperluan BBM, lanjut Miskan, Pemerintah telah memberi kebijakan khusus pada nelayan. Nelayan diperkenankan membeli BBM subsidi dengan jumlah hingga 40 liter. Tetapi menurut Miskan, pemberian subsidi BBM itu belum banyak memberi pengaruh pada nelayan, terlebih saat cuaca memburuk dalam waktu lumayan lama seperti saat ini. Nelayan sebagian besar tidak melaut sehingga tidak banyak membutuhkan BBM. “ Justru yang untung orang lain. BBM untuk nelayan yang nggak terbeli bisa mereka beli. Makanya ya nggak ngaruh subsidi lewat BBM itu pada saat cuaca seperti ini,” kata Miskan.

Keadaan lebih buruk lagi dialami nelayan-nelayan yang ada di kawasan industry. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kecamatan Tambakboyo, Ali Imron, mengatakan, pukulan terhebat bagi nelayan sebenarnya bukan cuaca, tetapi aktivitas industry. Setidaknya dalam lima tahun terakhir aktivitas nelayan di perairan Tuban, terutama di kawasan Tambakboyo dan sekitarnya, praktis terhenti lantaran adanya aktivitas industry. “ Saat ada uji seismic 2D oleh PT Camar untuk mencari potensi minyak di perairan Tuban, nelayan sudah sangat dirugikan. 1.500 lebih rumpon nelayan rusak. Ditambah mereka juga dilarang melaut selama ada kegiatan itu. Disusul adanya proyek PLTU dan sekarang PT Holcim (PT Holcim Indonesia, Tbk) yang bikin pelabuhan,” papar Ali Imron.

Akibat aktivitas tersebut, kata Ali Imron, pendapatan nelayan hilang. Ditambah lagi dengan cuaca yang belum membaik, membuat kehidupan nelayan semakin terpuruk ke dasar jurang kemiskinan. Padahal perairan laut Tuban seluas 240 mil persegi ini masih lumayan besar potensi produksi perikanan tangkapnya. Imron berpendapat, Pemerintah layak memberi subsidi langsung pada nelayan. Sebab penderitaan nelayan akan berlangsung cukup lama dan tentu tidak cukup hanya mengandalkan ganti rugi dari perusahaan pemanfaat kawasan pesisir. Sebab kenyataannya, kata Ali Imron, untuk mendapatkan ganti rugi itu pun tidak mudah bagi nelayan.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Tuban, Ir. Amenan, MT, membenarkan jika kondisi nelayan semakin buruk. Namun bagi Amenan, itu tidak semata-mata disebabkan adanya inustrialisasi ataupun cuaca. Menurut Amenan, pola tangkap nelayan-lah yang menjadi factor penyebab tidak mampunya nelayan menghadapi perubahan iklim dan situasi saat ini. Sebagian besar nelayan di Tuban masih menggunakan pola one day fishing, yakni melaut hanya dalam waktu paling lama sehari. Jarak jangkaunya juga tidak pernah lebih dari 4 mil, sehingga penghasilan mereka tidak bisa maksimal.

“ Ini karena kebanyakan nelayan di sini masih minim alat tangkapnya. Perahu yang digunakan kebanyakan masih di bawah 40 GT, sehingga tidak bisa melaut dalam waku lama dan jauh. Padahal potensi ikan yang banyak itu berada di luar wilayah laut kabupaten, di luar garis 4 mil laut,” jelas Amenan.

Pihak DKP sendiri, lanjut Amenan, telah berupaya melakukan terobosan-terobosan untuk mendongkrak kondisi nelayan. Saat ini DKP Tuban sedang berupaya melakukan pembaruan peralatan tangkap nelayan. Salah satunya adalah dengan mentargetkan terlaksananya perubahan pola tangkap dari one day fishing. Untuk itu DKP getol memperbaharui perahu nelayan menjadi 20 GT ke atas.

Menurut catatan DKP, sampai hari ini terdapat 18.551 nelayan, yang tersebar di Kecamatan Bancar, Kecamatan Tambakboyo, Kecamatan Jenu, Kecamatan Tuban Kota, dan Kecamatan Palang. Dari jumlah itu, hanya terdapat 66 perahu berukuran 20 GT ke atas. Bahkan sebanyak 2.792 perahu masih berukuran kurang dari 5 GT. (bek)