PBRT : Tuban Menggugat

361
PBRT Memblokade akses jalan produksi

kabartuban.com – Paguyuban Bumi Ronggolawe Tuban (PBRT) masih terus berjuang. Hari ini Senin (21/5) PBRT kembali menggelar aksi di lokasi Pabrik PT. Semen Gresik, tbk (PTSG). Tidak hanya persoalan tuntutan pengelolaan Afval atau limbah yang belum selesai, Seluruh demonstran lantang menyuarakan tuntutan mereka terkait kewajiban Corporate Social Responsibility (CSR) PTSG yang menurut mereka tidak jelas.

Dalam aksi kali ini PBRT membentangkan 2 (dua) spanduk besar yang bertuliskan “Semen Gresik Kejam Tak Tertandingi, Tiada Henti Mencemari Negeri” dan “Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN PT. Semen Gresik Tuban Omong Kosong Aliyas Pras Prus”.

Lagi-lagi Sudi, Kaur Kesra Desa Sumber Arum yang juga merupakan pengurus PBRT ini kembali melakukan orasi. Dalam orasinya, Sudi mengecam PTSG yang menurutnya tidak pernah berniat baik mensejahterakan warga sekitar. Menurut Sudi, semua yang dilakukan PTSG hingga saat ini hanya pencitraan yang hanya berisi permainan – permainan saja. Lebih lanjut orasi Sudi menyampaikan bahwa permainan lelang Afval ini adalah salah satu bukti PTSG tidak pernah secara kongkrit memprioritaskan warga sekitar. “Semua ini hanya permainan, warga dibodohi, di adu domba, tanah kita habis dan tidak ada ceritanya warga sejahtera karena keberadaan PTSG, semua itu omong kosong”, lantang Sudi menyampaikan orasi di tengah terik matahari.

Spanduk utama aksi PBRT

Kemudian orasi diselingi pemutaran audio lagu rakyat warga sekitar PTSG yang berjudul “CSR Omong Kosong”. Orasi pun kembali digelar secara bergantian. Tiba saatnya Subandi, Akademisi dan praktisi sosial politik dari Parengan ini juga menyampaikan orasi dan dukungan penuh terhadap gerakan PBRT. Dalam orasinya Subandi mengatakan, “Saatnya Tuban menggugat. CSR harus diperjelas dan Tanggung Jawab Sosial Lingkungan PTSG harus dimaksimalkan”. Menurut Subandi, CSR merupakan tanggung jawab Perusahaan. Apalagi BUMN harus memberi contoh yang baik bagi perusahaan lain. “Kita hidup di tanah merdeka, dan kita harus bersatu untuk merdeka dari belenggu kapitalisme saudara – saudara”, suara Subandi lantang menggema disambut sorak sorai hampir 200 demonstran.

Dalam keterangannya Subandi mengatakan, rekrutmen warga sekitar sebgai tenaga kerja di PTSG bukan termasuk CSR karena dibayar dari anggaran produksi. Apalagi hanya pekerja outsorching. CSR diambil dari laba perusahaan 1 s.d 3 % setelah dikurangi pajak. Kalau laba bersih PTSG 3,6 s.d 3,9 Trilyun sudah berapa anggaran CSR ?, kemana saja uang itu, seharusnya dengan uang sebanyak itu seharusnya keadaan masyarakat sekitar tidak begini,  kata Subandi. Lebih lanjut Subandi menegaskan dalam orasinya, “jika memang nanti ada indikasi Korupsi di PTSG, maka kita layak melaporkannya ke KPK”.

Usai Subandi menggerakkan jiwa para demonstran, Sujono Ali selaku penasehat hukum PBRT ikut menyampaikan orasi. Sujono Ali mengatakan, seluruh anggota PBRT harus bersatu dan jangan mudah terprovokasi dan dipecah belah. Jika memang nanti terdapat indikasi dan bukti PTSG melanggar hukum, kita siap menggugat, kata Ali. Dalam kesempatan itu Ali mengajak seluruh anggota PBRT tetap tenang dan tidak anarkis dalam melakukan aksinya.

Aksi kali ini dijaga ketat pihak kepolisian. Aksi yang rencananya digelar berturut – turut hingga 31 Mei ini mengundang kekhawatiran pihak aparat akan terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan. Dalam pengamanan kali ini, Kapolres dan Wakapolres ikut turun ke TKP. (iim)