Gedung Belum Rampung, Tahun Ajaran Baru Sekolah Rakyat Tuban Mundur hingga Akhir Juli

kabartuban.com – Harapan ratusan siswa untuk memulai tahun ajaran baru 2026/2027 di Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 18 Kabupaten Tuban pada pertengahan Juli harus tertunda. Penyebabnya, pembangunan gedung sekolah yang akan digunakan sebagai lokasi pembelajaran belum rampung sehingga kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) maupun proses belajar mengajar belum dapat dilaksanakan.

Semula, MPLS bagi peserta didik baru dijadwalkan berlangsung pada 13 Juli 2026 sesuai kalender pendidikan. Namun, kegiatan tersebut diundur hingga 31 Juli 2026 sambil menunggu penyelesaian pembangunan gedung sekolah.

Kepala SR Terintegrasi 18 Tuban, Vera Khoirun Nissa, mengatakan penjadwalan awal mengikuti arahan pemerintah pusat. Namun, kondisi pembangunan di lapangan membuat jadwal tersebut tidak memungkinkan untuk dilaksanakan.

“Sesuai kalender pendidikan, MPLS seharusnya dilaksanakan pada 13 Juli, sedangkan yang murid lama masuk tanggal 31 juli. Harapannya peserta didik baru dapat mengikuti pengenalan lingkungan sekolah sebelum seluruh siswa masuk. Namun karena gedung permanen belum selesai dibangun, kami harus menunggu hingga bangunan benar-benar siap digunakan,” ujarnya.

Vera menjelaskan, kontrak pembangunan sekolah dijadwalkan berakhir pada 25 Juli 2026. Sebelum serah terima, pada 24 Juli akan dilakukan peninjauan untuk memastikan seluruh fasilitas, termasuk sarana dan prasarana pendukung, telah memenuhi standar operasional.

Ia mengakui keterlambatan pembangunan berdampak pada tertundanya proses pembelajaran. Saat sekolah-sekolah lain telah memulai tahun ajaran baru, siswa Sekolah Rakyat Tuban masih harus menunggu hingga akhir Juli.

Meski demikian, pihak sekolah telah menyiapkan strategi agar ketertinggalan materi dapat dikejar setelah kegiatan belajar dimulai.

“Kami akan melakukan penyesuaian pembelajaran dengan memadatkan materi sehingga capaian belajar siswa tetap dapat mengikuti sekolah lain,” katanya.

Selama masa penundaan, pihak sekolah juga terus melakukan pendampingan kepada calon peserta didik beserta orang tua agar tetap mendapatkan informasi mengenai persiapan masuk sekolah.

“Kami terus memberikan pendampingan kepada siswa dan wali murid agar mereka memahami kondisi yang terjadi dan tetap siap ketika kegiatan belajar dimulai,” tambah Vera.

Menurutnya, sejak awal pelaksana proyek optimistis pembangunan dapat selesai sebelum 13 Juli. Namun target tersebut tidak tercapai karena proses pembangunan di Tuban dimulai lebih lambat dibandingkan sejumlah daerah lain.

“Kalau dibandingkan Sekolah Rakyat di daerah lain, pembangunan di Tuban memang lebih lambat. Di beberapa daerah pengerjaan sudah dimulai sejak akhir tahun lalu, sedangkan di Tuban baru dimulai sekitar akhir Januari hingga Maret,” jelasnya.

Selain persoalan infrastruktur, Sekolah Rakyat Tuban juga masih menghadapi keterbatasan tenaga pendidik. Saat ini tersedia 19 guru, sementara kebutuhan ideal masih lebih banyak. Penambahan tenaga pendidik masih menunggu penugasan dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat).

Untuk mendukung pembinaan peserta didik yang tinggal di asrama, sekolah menyiapkan lima wali asrama dan 12 wali asuh dengan rasio satu wali asuh mendampingi sekitar 10 siswa.

Meski mengusung konsep sekolah berasrama, Vera menegaskan proses pembelajaran tetap menggunakan kurikulum nasional sebagaimana sekolah formal pada umumnya.

Pada tahun ajaran 2026/2027, SR Terintegrasi 18 Tuban menampung sebanyak 256 peserta didik. Jumlah tersebut terdiri atas 16 siswa SD dalam satu rombongan belajar dan kemungkinan akan bertambah 5 siswa, 90 siswa SMP dalam tiga rombongan belajar, 90 siswa SMA dalam tiga rombongan belajar, serta 60 siswa SMA asal Bojonegoro yang untuk sementara mengikuti pembelajaran di Tuban dan terbagi dalam dua rombongan belajar.

Diketahui, proyek pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 18 Kabupaten Tuban dikerjakan oleh PT Waskita Karya di atas lahan seluas sekitar tujuh hektare. Pembangunan Sekolah Rakyat di Tuban diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp190 miliar hingga Rp215 miliar dan merupakan bagian dari paket pembangunan lima Sekolah Rakyat di Jawa Timur dengan total nilai investasi sekitar Rp1,165 triliun.

Awalnya, proyek tersebut ditargetkan rampung pada 20 Juni 2026. Namun, pemerintah memberikan perpanjangan waktu (addendum) hingga 25 Juli 2026 untuk menyelesaikan pembangunan sebelum sekolah mulai beroperasi. (fah)

Baca juga:

Sekolah Rakyat Tuban Dibangun dengan Anggaran Rp50 Miliar Lebih, Siap Cetak Generasi Emas dan Putus Rantai Kemiskinan

Tuban Masuk Kategori 1B, Sekolah Rakyat Siap Dimulai 1 Agustus

Banner

Berita Terbaru

Artikel Lainnya