Petani Cabe Keluhkan Permainan Harga

404

kabartuban.com — Petani cabe rupanya harus terus bersabar. Setelah sempat berada di puncak pada pertengahan 2011 lalu, harga cabe belum berhasil membaik kembali. Catatan Bidang Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwisata Pemkab Tuban, saat ini harga cabe berada di level Rp 22 ribu/kg untuk cabe merah biasa (lokal), sedang untuk cabe merah keriting bahkan merosot hingga ke level Rp 8000/kg. “ Supplay cabe banyak, sementara demand-nya tetap, makanya harga masih di kisaran angka itu,” jelas Imron Achmadi, Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perekonomian dan Pariwasata.

Di tingkat petani, harga justru lebih rendah lagi. Pantauan kabartuban.com di sejumlah desa penghasil cabe, Minggu (29/4), tengkulak mematok harga antara Rp 15-20 ribu/kg untuk cabe merah lokal, sedangkan cabe merah keriting Rp 4000/kg. “ Ya kami nggak bisa protes. Kalau nggak mau harga segitu ya nggak dibeli, kan malah rugi kita,” keluh Lina (28), petani cabe yang ditemui di Desa Gembong, Kecamatan Rengel.

Menurut Lina, harga yang diberikan tengkulak tersebut terlalu rendah, mengingat harga cabe di pasaran masih lumayan tinggi. Meski dikabarkan sempat terjadi penurunan, namun tidak sampai mencapai 50 %. Tapi untuk pembelian di tingkat petani justru harga merosot hingga 50 % lebih. Padahal supplay cabe, kata Lina, tidak begitu melimpah. Banyak tanaman cabe mengalami kekeringan sebab kekurangan pasokan air. Sebulan terakhir hujan memang jarang turun, sementara tanaman cabe umumnya berada di lahan kering. Bahkan lahan yang digarap Lina dan para petani lainnya itu, berada di ketinggian hampir 400 mdpl.
Lina mengaku mengalami kerugian lumayan besar untuk panen kali ini.

Dari luasan lahan 0,5 ha yang digarapnya, ia hanya mampu memetik 5-6 kwintal cabe. Dengan harga pembelian petani Rp 4000/kg, Lina hanya mampu mengantongi Rp 2 – 3 juta. Belum lagi untuk memanen cabenya, Lina juga harus membayar tukang petik setidaknya 4 orang dengan upah Rp 25 ribu/orang/hari. “ Nggak nyucuk (seimbang, red) dengan biaya pengolahan lahan dan tanamnya, Mas. Untuk mengolah lahan seluas ini sedikitnya butuh Rp 7-9 juta,” kata Lina.

Biaya menjadi lebih besar, kata Lina, lantaran HET pupuk pun naik. Untuk pupuk jenis urea, Pemerintah menetapkan HET dari Rp 65 ribu/zak ukuran 50 kg menjadi Rp 90 ribu/zak saat ini. Tetapi harga itu sudah meningkat menjadi Rp 120 ribu di kios-kios yang ada di desa-desa, termasuk di desa tempat Lina bertani cabe. Harga yang didapat Lina dan umumnya petani cabe di tempat itu lebih tinggi lagi karena mereka mengambil pupuk dengan cara kredit dari kios. “ Ya nyampek Rp 150 ribu per zak-nya, wong kami hutang. Kalau beli langsung dapat harga lebih murah,” kata Lina.

Tak ada yang bisa dilakukan Lina kecuali mengeluh. Ia dan sejumlah petani di tempat itu tentu berharap agar Pemerintah campur tangan dalam tata niaga cabe, sehingga petani seperti-nya tidak menjadi obyek permainan tengkulak. (bek)