kabartuban.com – Puluhan petani penggarap di Kelurahan Mondokan, Kecamatan Tuban, tengah diliputi kecemasan. Lahan eks-bengkok seluas sekitar 3,51 hektare yang telah mereka garap selama puluhan tahun akan ditarik kembali oleh pemerintah daerah untuk pembangunan Sekolah Rakyat (SR), yang saat ini masih menumpang di Balai Latihan Kerja Industri (BLKI).
Di kawasan tersebut, terdapat sekitar 40–50 petani yang menggantungkan penghidupan keluarga sepenuhnya pada tanah sewaan milik pemerintah itu. Namun rencana pembangunan membuat mereka gamang, terlebih belum ada kepastian terkait kompensasi.
Pembangunan sekolah Rakyat progam presiden Prabowo itu, rencana akan di bangun Pada tahun 2026 mendatang dengan.
Sumiyatun, salah satu petani, mengaku hanya bisa pasrah. Selama ini ia menghidupi keluarganya dengan berjualan kangkung hasil panennya.
“Yo piye maneh, Cung. Mbah nggih mboten saget nopo-nopo. Nek tanah niki sampun didamel Sekolah Rakyat, nggih kulo mulung mawon, (Ya bagaimana lagi, Nak. Mbah tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau tanah ini dibangun Sekolah Rakyat, saya ya hanya bisa memulung. Red), ” Ucapnya dengan raut wajah yang pasrah
Rasa putus asa serupa dirasakan Mashudi. Meski memahami bahwa lahan itu milik negara, namun dari situlah ia selama ini menggantungkan hidup dengan bertani padi.
“Banyak yang sambat, sebenarnya tidak setuju, Mas. Tapi mau bagaimana lagi, ini memang tanah negara,” tuturnya muram.
Sekali panen, Mashudi bisa menghasilkan lima kuintal gabah. Sebagian untuk kebutuhan pribadi, sisanya dijual untuk menutup biaya pupuk dan kebutuhan harian.
Lurah Mondokan, Adit Dharmawan, memastikan bahwa para petani tidak akan kehilangan lahan garapannya. Pihak kelurahan tengah menyiapkan lahan eks-bengkok lain sebagai lokasi relokasi agar mereka tetap bisa beraktivitas seperti biasa.
“Masyarakat sudah memahami bahwa tanah itu milik negara, jadi mereka sudah bersiap,” kata Adit saat ditemui Selasa (18/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa selama ini lahan eks-bengkok tersebut disewakan melalui mekanisme lelang, dengan biaya sewa Rp700 ribu per blok.
“Nantinya para penggarap akan kita alihkan ke lahan eks-bengkok lain, seperti di barat SMAN 4 Tuban atau di selatan Jalan Letda Sucipto,” jelasnya.
Adit menegaskan bahwa proses pemindahan sedang dirumuskan, dengan prinsip tidak mengurangi luas lahan sewa para petani.
“Kita usahakan adil. Minimal sama luasnya, syukur-syukur bisa lebih,” pungkasnya.
Meski pemerintah kelurahan menjanjikan lahan pengganti, kegamangan masih menyelimuti para petani yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup pada tanah tersebut. Mereka berharap proses relokasi benar-benar memberikan kepastian dan tidak menghilangkan mata pencaharian utama yang telah menjadi tumpuan keluarga mereka. (fah)
