The End Story of Gendok Merik ?

749
moedernisasi industri perikanan mengancam punahnya gendhok merik (foto:sudra)

kabartuban.com – Coba tanya pada Mbah Karti (70), kapan ia mulai membuat gendhok (semacam belangga kecil dari tanah liat, red). Warga RT 04 RW IV Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding ini pasti menjawab, sejak masih dalam kandungan ibunya ia sudah membuat perkakas tradisional berbahan lempung atau tanah liat itu. Anda mungkin mengira jawaban Mbah Karti hanya sendau gurau. Tetapi memang benar, janda tiga anak itu sudah akrab dengan gerabah sejak masih dalam kandungan ibunya, tujuh puluh tahun lalu. ” Ibu saya pembuat gendhok. Waktu mengandung saya pun membuat gendhok jalan terus. Jadi ya saya sejak dikandung sudah akrab dengan gendhok,” tutur Mbah Karti, saat kabartuban.com bertamu, Jum’at (4/4).

Mbah Karti tidak tahu persis kapan kerajinan gerabah hadir di kampung yang lebih dikenal dengan sebutan Merik itu. Ia hanya tahu ibunya, bahkan neneknya dan orang-orang di kampung itu telah membuat gerabah sejak ia masih bayi. Dan sampai sekarang pun, kendati sudah tidak seramai dulu, warga kampung itu masih tetap membuat gerabah.

Kampung Merik sebenarnya berada di dua kelurahan. Bagian utara masuk wilayah Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban Kota, sedang bagian selatan, tempat Mbah Karti tinggal, masuk wilayah Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding. Tidak ada yang mengerti mengapa tempat itu disebut merik. Konon nama itu diambil dari nama salah seorang Belanda yang dulu menjadi Kepala Pabrik Gula di situ, Van Merc. Di sebelah kampung Merik, masuk wilayah Kelurahan Sidorejo pula, memang terdapat kampung Babrik atau pabrik. Sisa-sia bangunan pabriknya pun masih bisa ditemukan meski area bekas pabrik jaman kumpeni itu sekarang dipakai oleh Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (DPPK) Tuban sebagai laboratorium peternakan.

Kembali ke gendhok dan Mbah Karti. Menurut pengakuan Mbah Karti, dulu gerabah merik sangat terkenal, terutama jenis kuali. Hampir semua perajin gerabah yang ada di kampung itu produk utamanya memang kuali, terutama pada musim ikan teri. ” Kuali lebih cepat laku ketimbang grabah lain seperti kemaron, cobek dan lainnya. Kalau musim ikan teri malah sampai kewalahan. Kuali-kuali ini dibuat “mindang” (mengawetkan ikan dengan pengasapan,red) teri. jadi kalau lagi musimnya ya buanyak yang pesan,” kata Karti.

Kuali-kuali hasil karya Mbah Karti dan warga Kampung Merik itu bahkan sudah sampai pulau Bawean dan Madura. Perahu-perahu pure sine yang membawanya ke sana. Kadang lewat pelabuhan Karang Agung, Kecamatan Palang, kadang lewat pelabuhan Brondong, Lamongan. Dulu saat pelabuhan Boom masih disandari perahu-perahu besar, kuali-kuali itu cukup diangkut gerobak untuk dikapalkan melalui pelabuhan tua itu. Jarak Kampung Merik dengan pelabuhan Boom juga tak seberapa jauh, hanya sekitar 4 Km. Tetapi sekarang untuk pengiriman harus lewat pelabuhan Karangagung yang jaraknya 35 Km lantaran Boom telah disulap menjadi tempat wisata. Tidak ada lagi perahu-perahu besar yang bisa bersandar di situ.

Faktor ini-lah yang menjadi salah satu penyebab produksi gendhok Merik berangsur turun. Jarak pengangkutan yang jauh tentu mendongkrak harga jual lantaran ongkos angkutannya juga lebih mahal. Sementara pihak pasar menghendaki harga tidak lebih tinggi. Apalagi waktu-waktu berikutnya bukan hanya gendhok produksi Merik yang masuk Bawean dan Madura. Pasar semakin banyak pilihan sehingga bisa menekan harga barang. ” Sering kami nggak untung. Apalagi kalau sudah banyak yang pecah,” kata Marmi, salah seorang agen pengepul gendhok Merik.

Nasib gerabah merik semakin suram ketika industri pengolahan ikan berkembang. Seingat Marmi, pengepul gendhok lainnya, masuk tahun 90-an pasaran gendhok Merik mulai menurun. Tren menurun itu terus berlangsung dan semakin mengkhawatirkan memasuki tahun 2000-an. Pengakuan Marmi, sejak tahun 2000-an ia hanya mampu mengirim 5000 biji gendhok ke Bawean. Padahal sebelumnya, minimal 25-30 ribu gendhok yang ia kapalkan ke pulau itu. ┬áSekarang malah tidak sebiji-pun yang ia kirim-kan. ” Saya berhenti jadi pengepul. Tekor terus, pasaran semakin sepi. Banyak nelayan yang menyetorkan ikannya ke pabrik sekarang ini, jadi sudah nggak butuh gendhok,” keluh Marmi.

Tentu, perubahan orientasi nelayan itu sangat memukul para perajin gerabah di Merik. Saat ini hanya tinggal beberapa keluarga yang masih terlihat memproduksi tembikar itu. Selain Mbah Karti, Somi dan Basri adalah sedikit dari perajin gendhok yang masih bertahan sampai sekarang. Kedua perajin ini pun mengaku, andai ada pekerjaan lain, mereka sudah meninggalkan gendhoknya. ” Pesanan sepi. Harganya nggak naik-naik. sudah begitu tanah liat untuk bahannya juga makin sulit sekarang. Kalau nggak terpaksa karena nggak ada pendapatan lain, saya sudah berhenti,” kata Basri.

Pengakuan Basri, saat pasar gendhok masih ramai, dalam seminggu sedikitnya 3000 biji ia mampu hasilkan. Saat ini dalam waktu yang hampir sama, untuk bisa memproduksi 500 biji saja sudah sangat sulit. Padahal para perajin itu tidak mendapat untung sepeserpun bila tidak mampu menghasilkan gendhok minimal 1000 biji seminggu. Sebab untuk pembakarannya, gendhok sedikit atau banyak, biaya yang dikeluarkan sama. ” Sekali bakar butuh sekitar Rp 200-an ribu. Sedikit atau banyak ya segitu itu biayanya. Kalau ditotal keseluruhan dari tanah, pasir laut untuk bahan baku dan pembakarannya, Rp 350-an ribu ke atas duit yang diperlukan,” terangnya.

Harga gendhok kecil untuk pindang ikan saat ini Rp 400/biji. Itu-pun kadang hanya dibeli seharga Rp 350/biji oleh pengepul apabila si perajin masih punya tunggakan hutang. Kebanyakan perajin memang meminta uang lebih dulu kepada pengepul. Bukan sebatas untuk biaya produksi, tetapi segala keperluan menggantungkan uang pinjaman dari pengepul. Pada musim produksi, perajin mengembalikan pinjaman itu dengan gendhok. Dengan kata lain, perajin sebenarnya tidak pernah menikmati hasil keringatnya itu.

Itulah sebabnya semakin banyak keluarga di Kampung itu yang memilih bekerja di sektor lain, dan meninggalkan pekerjaan warisan nenek moyangnya tersebut. Semakin hari semakin sedikit warga yang memproduksi gendhok. Terlebih saat musim tidak tetap seperti yang berlangsung saat ini. Produksi gendhok hanya bisa dilakukan saat musim panas. Bila musim penghujan, sudah pasti kegiatan produksi berhenti.

Sugiyono, pemuda setempat, mengaku khawatir kerajinan gendhok bakal musnah dari kampungnya. Kekhawatiran Sugiyono beralasan sekali. Hampir tidak ada generasi yang berminat melanjutkan usaha pembuatan gendhok. Terang saja, selain tidak menjanjikan hasil cukup, generasi muda kampung itu lebih memilih bekerja di tempat-tempat yang bersih semisal di toko atau swalayan. Terlebih swalayan juga sedang menjamur di kota ini. Mungkinkah riwayat gendhok Merik yang sempat merajai pasar itu bakal berakhir ? Entahlah. (sudra bektinegara)-