Tradisi Kupatan, Cara Warga Tuban Maknai Malam Nisfu Sya’ban

kabartuban.com – Pada bulan Sya’ban, masyarakat Kabupaten Tuban dan sekitarnya kembali memperingati malam Nisfu Sya’ban, sebuah momentum religius yang dipercaya umat Islam sebagai malam penuh keberkahan dan ampunan dari Allah SWT. Perayaan kali ini diramaikan dengan tradisi lokal yang sudah berlangsung turun-temurun, yakni Kupatan, yang menjadi bagian penting dari budaya masyarakat setempat.

Nisfu Sya’ban yang secara harfiah berarti malam ke-15 bulan kedelapan kalender Hijriyah dipandang sebagai waktu istimewa untuk memperbanyak doa, introspeksi diri, serta memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan sepanjang tahun. Dalam tradisi Islam, malam ini juga dikenal sebagai waktu ketika umat didorong memperbaiki diri dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci Ramadan yang akan datang dalam kurang lebih dua pekan lagi.

Di Kabupaten Tuban, tradisi Kupatan menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya lokal pada malam Nisfu Sya’ban. Berbeda dengan tradisi makan ketupat yang umum dilakukan saat Lebaran, Kupatan memiliki makna spiritual yang kuat. Warga berkumpul di musala atau masjid dengan membawa ketupat dan lauk-pauk yang telah disiapkan sejak sore hari. Ketupat-ketupat itu kemudian disusun rapi di depan, sebagai simbol ngaku lepat istilah Jawa yang berarti mengakui kesalahan dan memohon ampun atas khilaf yang telah terjadi.

Setelah ketupat dipersiapkan, tokoh agama atau sesepuh kampung memimpin doa dan tahlil, diikuti pembacaan Yasin dan dzikir bersama oleh warga yang hadir. Doa-doa itu dipanjatkan dengan harapan mendapat keberkahan, kesehatan, dan keselamatan bagi keluarga serta lingkungan sekitar. Tidak jarang suasana pengajian tradisional ini berubah dari khidmat menjadi hangat oleh canda dan cakap sesama tetangga, mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Ritual Kupatan kemudian ditutup dengan makan ketupat bersama. Momen ini bukan sekadar berbagi makanan, tetapi juga menjadi simbol ukhuwah, persaudaraan, dan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan selama setahun terakhir.

Bagi masyarakat Muslim, malam Nisfu Sya’ban bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga pengingat akan pentingnya pengampunan dan perbaikan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Di tengah rutinitas hidup, momentum ini memberi ruang bagi warga untuk merenung, berdoa, dan memperkuat ikatan sosial.

Sama seperti tradisi serupa di berbagai daerah di Jawa, seperti syabanan, manganan, atau punggahan, Kupatan di Tuban menunjukkan bagaimana tradisi lokal mampu menggabungkan nilai-nilai Islam dengan kearifan budaya setempat.

Malam Nisfu Sya’ban dan tradisi Kupatan di Tuban menjadi bukti nyata bagaimana sebuah tradisi religius lokal tetap hidup dan relevan hingga kini. Lebih dari sekadar ritual, perayaan ini sarat makna spiritual, sosial, dan budaya yang mengajak masyarakat untuk terus bersyukur, memperbaiki diri, serta memperkuat rasa kebersamaan terutama saat bulan Ramadan semakin dekat. (fah)

Populer Minggu Ini

Polres Tuban Gelar Operasi Keselamatan Semeru 2026, Tekan Angka Kecelakaan Jelang Ramadhan dan Idul Fitri

kabartuban.com - Dalam rangka menciptakan situasi keamanan, keselamatan, ketertiban,...

Angin Puting Beliung Terjang Desa Tegalrejo Widang, Puluhan Rumah Rusak

kabartuban.com - Hujan lebat disertai angin puting beliung melanda...

Kasus Pengrusakan Pagar di Widang Belum Tuntas, Polisi Masih Lengkapi 35 Halaman Petunjuk Jaksa

kabartuban.com - Kasus dugaan pengrusakan pagar rumah warga di...

Cuaca Buruk Hambat Evakuasi MT Abigail W, Kapal Baru Bergeser Beberapa Meter

kabartuban.com - Lebih dari sepekan berlalu sejak kapal tanker...

Pemkab Tuban Tegas, Tolak Outlet 23 HWG Beroperasi di Tuban

kabartuban.com - Pemerintah Kabupaten Tuban menegaskan sikap tegas terhadap...

Artikel Terkait