kabartuban.com – Gedung Sekolah Rakyat (SR) Tuban yang belum genap dua bulan digunakan harus menjadi perhatian. Seorang siswa kelas XI berinisial DR mengalami luka setelah terjatuh saat hendak mengambil kunci yang berada di bagian luar asrama, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Dalam kejadian tersebut, bagian struktur pelindung di area kanopi ikut runtuh. Siswa tersebut kemudian mendapat penanganan medis di rumah sakit.
Kepala Sekolah SR Tuban, Vera Khairun Nissa, membenarkan insiden tersebut. Ia menjelaskan, kejadian bermula ketika sebuah kunci terlempar ke bagian atas luar asrama.
DR kemudian berusaha mengambil kunci tersebut dengan meraih bagian kanopi. Namun, saat tangannya bertumpu pada struktur tersebut, material yang diraihnya tiba-tiba ambruk.
“Ya betul, namun saat jatuh korban sempat menghindar jadi tidak tertimpa secara keseluruhan. Hanya material yang diraihnya saja yang mengenai korban hingga mengakibatkan luka dan harus dilarikan ke rumah sakit,” ujar Vera.
Menurut Vera, pihak sekolah langsung melakukan pendampingan terhadap korban dan membawanya ke rumah sakit. Biaya pengobatan juga ditanggung pihak sekolah.
“Kami langsung melakukan pendampingan hingga ke rumah sakit dan memberikan tanggung jawab penuh terhadap biaya pengobatan korban,” katanya.
Pihak SR Tuban, lanjut Vera, juga telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial serta instansi terkait untuk menangani insiden tersebut.
Sementara itu, Koordinator Wilayah PT Waskita Karya Tuban, Agus Saputra, membenarkan adanya insiden tersebut. Agus menegaskan, material yang runtuh bukan merupakan kanopi utama bangunan. Menurut dia, bagian tersebut merupakan struktur topi-topi kanopi yang dipasang untuk menghalau air hujan agar tidak masuk melalui jendela.
“Informasi dari tim di lapangan, insiden tersebut bukanlah akibat dari kegiatan konstruksi. Coba diklarifikasi kepada pihak SR saja karena masih ada perbedaan informasi antara pihak sekolah dengan tim kami,” kata Agus.
Ia menjelaskan, struktur tersebut memang tidak dirancang untuk menahan beban tubuh manusia. Menurutnya, insiden terjadi setelah siswa menaiki atau bertumpu pada bagian tersebut.
“Karena ada anak yang naik ke sana, akhirnya ambruk. Namun, nantinya akan tetap kami perbaiki,” ujarnya.
Agus juga menyarankan agar media menemui langsung tim teknis PT Waskita Karya di lokasi SR Tuban untuk memperoleh penjelasan lebih detail mengenai konstruksi bagian tersebut.
Insiden ini menjadi sorotan karena fasilitas SR Tuban masih tergolong baru dan baru mulai digunakan pada awal Agustus 2026. Munculnya kerusakan pada salah satu bagian bangunan yang sampai menyebabkan siswa terluka pun memunculkan pertanyaan mengenai aspek keselamatan fasilitas sekolah.
Meski pihak kontraktor menyebut struktur tersebut tidak diperuntukkan sebagai pijakan dan ambruk akibat beban dari luar, pemeriksaan teknis tetap penting dilakukan untuk memastikan penyebab sebenarnya.
Apalagi, fasilitas tersebut digunakan oleh siswa dan menjadi tempat mereka beraktivitas maupun tinggal di lingkungan asrama.
Karena itu, evaluasi terhadap bagian bangunan yang mengalami kerusakan menjadi penting. Bukan semata untuk mencari pihak yang bertanggung jawab, tetapi memastikan seluruh fasilitas yang digunakan siswa benar-benar aman.
Insiden tersebut juga menjadi pengingat bahwa bangunan sekolah bukan hanya soal megahnya gedung dan cepatnya pembangunan. Di balik tembok dan struktur yang terlihat kokoh, faktor keselamatan siswa harus menjadi ukuran utama.
Hingga kini, bagian yang mengalami kerusakan disebut akan diperbaiki oleh pihak kontraktor. Sementara penyebab teknis secara lebih rinci masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan di lapangan. (fah)
