kabartuban.com – Sebagian besar petani pada bantaran sungai bengawan solo terancam merugi, lantaran musim tanam yang mestinya sudah dapat mereka lakukan harus tertunda akibat lahan persawahan masih digenangi air cukup tinggi.
Para petani memilih menunggu kondisi membaik karena tidak berani berspekulasi. Seperti yang disampikan Sukadi salah satu petani, warga Kanorejo, Kecamatan Rengel, yang mengatakan banyak lahan pertanian masih dibiarkan, lantaran airnya masih cukup tinggi dan tidak bisa ditanami padi.
“Belum bisa tanam, air masih terlalu tinggi, kemarin air bengawan solo juga naik lagi, akhirnya air di sawah jadi banyak lagi,” kata Sukadi.
Menurut sukadi, meski tidak mengalami kerugian secara material, akibat belum bisa nanam ini membuat petani rugi waktu, mereka yang seharusnya sudah dapat menanam padi harus tertunda dan membuang waktu karena tidak bisa tanam padi.
“Mending ditunda dulu, dari pada sudah terlanjur nanam nanti mati malah rugi,” imbuh Sukadi.
Sambil menunggu konsdisi air luapan suangai bengawan solo surut, sebagian petani mengisi aktifitas sehari-harinya dengan menangkap dan mencari ikan disawah. Hasil tangkapan ikan kalau dapat banyak biasanya dijual atau dikonsumsi sendiri.
“Mau apa mas, sawah baru mau di tanami padi sudah di dimasuki air lagi, makanya kita cari aktivitas lain,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kanorejo, Yanto saat dikonfirmasi mengatakan, warga sebenarnya sudah mulai melakukan pengolahan lahan, sebagian juga sudah membuat penyemaian benih untuk bibit padi meski dengan resiko tinggi.
“Yang berani ambil resiko ya sudah mulai nanam tapi kemaren sudah di terjang air lagi,” kata Yanto.
Menurut Kepala Desa ini, untuk sementara waktu banyak warganya yang ngangur, atau beraktifitas lain seperti mencari ikan di genanga air perawahan.
“Dari pada tidak ada pekerjaan yang lain, lumayan kalau tidak dijual bisa dikonsumsi sendiri tanpa harus beli,” katanya (Luk)
