Kabartuban.com- Hujan yang sesekali masih terjadi menjadikan proses produksi dan pemesanan gerabah terpaksa belum dapat dipenuhi, karena dalam proses pengeringan kerajian ini yang hanya mengandalkan sinar matahari tidak dapat dilakukan secara maksimal.
“Mendung masih sering, kadanag juga masih hujan, semalam saja masih ada hujan,” ujar Sriwati (56), warga Sidorejo.
Seperti halnya para pengrajin di Kelurahan Karang, Kecamatan Semanding dan Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Tuban. Sebagai sentra penghasil gerabah, para pengrajin ini hanya bisa menyetoran kepada pengepul saja selama muhim penghujan.
“Tidak bisa bikin banyak-banyak, ini pengeringanya lama, capek keluar masuk-keluar masuk,” katanya.
Sulitnya proses pengeringan, banyak perajin gerabah yang berhenti sementara sambil menungggu cuaca membaik. Kalaupun tetap berproduksi, jumlahnya sangat jauh berkurang dibanding produksi pada musim kemarau.
“Kalau kemarau biasanya bikin kuali sampai 200 per hari, sekarang paling 50 biji sudah banyak,” terang wanita yang saat ditemui tengah membuat kuali ini.
Sriwati sendiri mengaku tidak bisa fokus membuat gerabah karena kondisi cuaca kurang bersahabat. Agar dapat membantu pemasukan keluarga, sambil menunggu cuaca membaik memulai produksi gerabah, dirinya juga berjualan krupuk di Pasar Paru Tuban.
“Bikin kuali tapi tidak bisa dijemur, ini yang bikin sedikit, dari pada ngangur, kita sambil jualan krupuk dipasar,” pungkas Sriwati ini. (Lk).
