kabartuban.com – Kekeringan yang melanda wilayah Kabupaten Tuban tahun ini disebut-sebut lebih parah dibanding tahun sebelumnya.
Indikatornya, jumlah desa yang terdampak musim kemarau lebih banyak dibandingkan kekeringan di tiga tahun yang lalu. Tercatat di Tahun 2015 ada 43 desa yang mengalami kekeringan, kemudian 2016 terjadi kemarau basah sepanjang tahun, untuk 2017 ada sekitar 35 desa, sedangkan saat ini ada 51 titik kekeringan yang tersebar di 11 kecamatan di seluruh wilayah Bumi Wali.
Sebelas kecamatan tersebut yakni, Semanding, Grabagan, Kerek, Senori, Bangilan,Parengan, Jatirogo, Montong, Soko, Rengel dan Singgahan.
Gaguk Hariyanto, Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tuban menuturkan, pada Juli 2018, titik kekeringan terjadi di 26 titik di tujuh kecamatan yaitu, Semanding, Grabagan, Kerek, Senori, Bangilan, Parengan dan Jatirogo. Kemudian pada bulan Oktober, wilayah kekeringan meluas ke 51 Desa.
“Kita mulai Juli mendroping air di 26 desa tujuh kecamatan, dan sekarang sudah 51 desa yang terdampak krisis air bersih ,” kata Gaguk kepada awak media, Selasa (23/10/2018).
Dikatakan Gaguk, sejak Juli lalu telah memasok air bersih ke sejumlah desa terdampak. BPBD juga melakukan survei ke lokasi untuk melihat kondisi medan yang akan dilalui dan ketersediaan tandon untuk air bersih.
“Kami survei dulu, kalau belum memiliki tandon air, kami akan buatkan embung kecil dari terpal untuk menampung air bersih,” katanya.
Seminggu sekali di tiap titik lokasi kekeringan akan mendapat pasokan air bersih sebanyak dua kali. Satu kali droping air yaitu 21 ribu liter air atau tiga tangki. Air bersih ini digunakan masyarakat untuk kebutuhan air minum, memasak, dan untuk kebutuhan MCK.
Medan dan lokasi titik kekeringan menjadi kendala bagi BPBD untuk menyalurkan air bersih. Jarak tempuh yang cukup jauh terkadang menyebabkan droping air bersih menjadi molor dari jadwal yang ditentukan.
Selain faktor jarak dan medan jalan menuju titik lokasi droping, keterbatasan jumlah armada truk tangki juga menjadi kendala, mengingat banyaknya lokasi yang harus diantar.
“Truk tangki air yang dimiliki oleh BPBD Tuban cuma ada tiga,” jelasnya.
Gaguk menambahkan, sejak Juli hingga Oktober 2018, BPBD Tuban sudah mendistribusikan lebih dari sekitar 500 tangki air atau sekitar 3 juta liter air bersih ke masyarakat yang terdampak kekeringan. Karena kemarau diprediksi juga sampai bulan November, ia mengimbau kepada masyarakat agar lebih menghemat menggunakan air bersih.
Sementara itu, Mbah Jinah warga Dusun Jerugulung, Desa Sambingrejo, Kecamatan Semanding yang didapati menjadi tempat droping air, mengaku sangat membutuhkan akan kebutuhan air bersih. Ia sehari dalam mengkonsumsi air yang digunakan untuk minum dalam dua minggu menghabiskan satu galon, sedangkan kebutuhan lainnya mbah jinah mengambil air di sumur bor sawah dengan jarak tempuh 5 kilo meter.
“Alhamdulillah mas ini dapar bantuan air, kalau biasanya untuk kebutuhan mandi dan yang lainnya ambil air di sumur dekat sawah, tapi untuk minum beli air galon seharga Rp5 ribu,” sambungnya. (Dur)
