Lauk Pengganti Desak Konsumsi Ikan

602
Permintaan krupuk terus meningkat seiring dengan semakin rendahnya tingkat konsumsi ikan masyarakat. Produksi ikan memang menurun mengakibatkan daya beli masyarakt melemah (foto:bekti/bisinissukses.bolgspot.com)

kabartuban.com – Meski berada di kawasan pesisir, jangan bayangkan masyarakat Tuban gemar makan ikan. Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mencatat, konsumsi ikan rata-rata hanya mencapai 23 kg/kapita/tahun, masih terpaut jauh dengan stadart konsumsi ikan nasional, yakni 31 kg/kapita/tahun, terlebih bila dibandingkan dengan standart World Health Organization (WHO), 34 kg/kapita/tahun. Tapi, meurut Ir. Arif Tribina, Lektor Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas (PGRI) Ronggolawe (UNIROW) Tuban,  bila dibanding rata-rata konsumsi ikan di Jawa Timur, Tuban masih jauh di atasnya. ” Konsumsi ikan Jawa Timur rata-rata hanya mencapai 19 kg perkapita,” jelasnya, Senin (14/5)

Rendahnya konsumsi ikan tersebut, sambung Arif Tribina, disebabkan faktor besarnya konsumsi barang substitusi (pengganti) ikan, seperti tahu, tempe dan makan olahan lainnya. Terlebih setahun terakhir harga ikan relatif tinggi lantaran produktifitas menurun akibat anomali iklim. Keadaan tersebut bahkan berlangsung hingga sekarang.

” Tingginya harga ikan menyebabkan masyarakat memilih barang substitusi untuk lauk. Apalagi barang-barang kebutuhan pokok juga mengalami kenaikan dan sampai saat ini masih bertahan di level tinggi,” kata Arif Tribina.

Faktor-faktor itulah yang mendorong tren permintaan barang substitusi meningkat pesat. Sejumlah pengusaha tahu dan tempe di Kelurahan Sukolilo, Kecamatan Tuban Kota membenarkan. Wasito, salah seorang pemilik usaha “tahu” di tempat itu, mengaku empat bulan terakhir mengalami peningkatan produksi lumayan drastis. ” Sebelumnya per hari habis 2,5 kwintal kedelai. Mulai Juni meningkat 3 kwintal, dan sekarang alhamdulillah bisa sampai 5 kwintal per hari,” kata Wasito.

Kendati begitu, tingginya permintaan “tahu” dan tempe itu, tambah Wasito, tidak banyak mempengaruhi harga pasaran. Harga kedelai telah kembali normal, yakni pada kisaran Rp 5.700-5.800/kg. ” Sempat naik sebentar, waktu harga kedelai mencapai Rp 8 ribu per kilo. Untung nggak lama,” kata Wasito.

Produsen krupuk menangguk keuntungan lebih lumayan lagi. Sulikan, salah seorang pemilik usaha krupuk, mengaku mengalami kenaikan omzet hingga 50 % lebih beberapa bulan terakhir. Ia mengaku tidak tahu pasti berapa ratus kwintal kerupuk yang dikonsumsi masyarakat per hari. Yang jelas, katanya, krupuk produksinya mampu terserap pasar sebanyak 1,5 kwintal per hari. ” Kalau dihitung bijiannya, ya ribuan biji, Mas. Paling yang gak kejual kurang 10 %,” terangnya.

Tingginya konsumsi krupuk itu, kata Sulikan, memang dipengaruhi sepenuhnya terhadap merosotnya produksi ikan akibat cuaca yang belum membaik. Mariati, ibu rumah tangga warga Kelurahan Doromukti, Kecamatan Tuban kota, membenarkan. Ia mengaku mengurangi konsumsi ikan besar-besaran beberapa bulan terakhir, dikarenakan harga ikan yang terus naik, sementara pilihan jenis ikannya juga semakin sedikit. Sebagai penggantinya, Mariati memilih tempe, tahu dan krupuk untuk lauk keluarganya. ” Biasanya tiap hari ada ikan. Tetapi sekarang harganya mahal, ikannya nggak banyak, ya paling seminggu dua kali saja makan ikan. Selebihnya tahu tempe dan krupuk. Nggak cukup kalau dipaksa terus pakai lauk ikan, wong harga-harga barang lainya ya naik,” katanya jujur.

Produksi ikan tangkapan nelayan memang masih belum beranjak membaik, dan bahkan semakin merosot. Menurut Dimjadi Humaeni, Ketua Paguyuban Nelayan Tuban, iklim bukan satu-satunya faktor penyebab. ” Nelayan terganggu aktifitas industri. Ribuan rumpon yang rusak karena kegiatan Uji Seismik 2 D PT Camar (Camar Resoucers Canada, CRC,red) juga belum memulihkan populasi ikan” kata Dim Humaeny.

Produksi ikan tangkap menurut catatan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) sebanyak 11.544 ton/tahun. Ditambah produksi perikanan darat sebesar 19.949,96 ton, total produksi perikanan Tuban mencapai 31.503,96 ton.  Dibanding total penduduk Kabupaten Tuban, dengan rata-rata konsumsi 23 kg/kapita, kebutuhan konsumsi ikan mencapai 28.602 ton.

” Harusnya konsumsi per kapita bisa lebih besar. Masalahnya, produksi ikan tidak seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal. Malah lebih banyak yang import,” kata Anton Tri Laksono, Kepala Seksi Data dan Pelaporan DKP Tuban. (bek)