kabartuban.com – Meski musim kemarau tahun 2017 ini lebih panjang dibandingkan tahun 2016, akan tetepi Industri garam di Bumi Wali Tuban belum dapat dibilang pulih. Hujan yang masih sesekali terjadi membuat petani di daerah ini kesulitan membuat kristal garam yang sangat mengandalkan terik matahari.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan dan Budidaya, Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Tuban, Umi Kulsum saat dikonfirmasi mengungkapkan, hingga Oktober tahun ini, produksi garam di Tuban baru mencapai sekitar 12 ribu ton, jumlah tersebut masih jauh dari target produksi garam yang mencapai angka sekitar 30 ribu ton tahun ini.
“Posisi per tanggal 7 Oktober produksi garam kita sejumlah 12.890,34 ton,” kata Umi (17/10/2017).
Jumlah tersebut sudah lebih baik dibanding tahun 2016 yang nyaris tidak ada produksi garam. Hal tersebut dikarenakan sepanjang tahun hampir tidak ada ada terik matahari yang cukup untuk memproduksi garam, karena musim kemarau basah.
“Tahun 2016 hampir tidak ada produksi, kalau tahun 2015 kita produksinya bagus, melampaui target 29 ribu ton produksi pertahun,” kata Umi.
Adapun di Kabupaten Tuban, terdapat sekitar 272,06 hektar (Ha) lahan garam, masing-masing di Kecamatan Palang 248,10 Ha dan Tambakboyo 23,96 Ha. Meski sepanjang garis pantai Kabupaten Tuban terdapat lima kecamatan, hanya dua wilayah yang memanfaatkan lahan sekiar pantai untuk produksi garam, sisanya adalah budidaya tambak ikan.
“Tidak semua Kecamatan dipinggir pantai Tuban menghasilkan garam, seperti kecamatan Jenu itu lebih ke budidaya ikan atau udang, bukan garam,” jelas Umi Khulsum.
Sebelumnya, petani garam yang ditemui kabartuban.com dikawasan ladang garam, Desa Pliwetan, Kecamatan Palang, Karnaji mengatakan, jika faktor cuaca sangat mempengaruhi pembuatan garam, sebab pemanasan dengan terik matahari masih menjadi faktor utama untuk menguapkan air laut menjadi kristal garam.
“Sekarang sudah pakai plastik, lebih cepat prosesnya, tapi kalau hujan ya sama saja, tetap gak jadi garamnya,” terang Karnaji. (Luk)
