Akhir Tahun 2021, Beberapa Harga Komoditas Alami Kenaikan

5
harga bahan pokok melonjak

Kabartuban.com – Tahun baru 2022 tinggal menghitung hari saja, beberapa komuditas pangan mulai ikut mengalami kenaikan harga. Beberapa komuditas seperti minyak, cabai rawit, hingga telur naik signifikan.

Terpantau dari Pasar Kecamatan Senori, Pasar Bangilan, Pasar Baru Tuban dan Pasar Pramuka, dimana cabai rawit menyentuh harga Rp 85 hingga Rp 90 ribu. Padahal pada hari-hari biasa berkisar antara Rp 29 hingga Rp 31 ribu, minyak goreng kemasan yang naik hingga 40 persen atau naik Rp 10 ribu, dan telur yang naik menjadi Rp 30 ribu.

Hal ini juga dikonfimasi oleh Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Tuban Agus Wijaya, bahwa kenaikan harga terjadi di seluruh wilayah, termasuk Kabupaten Tuban. Adapun untuk minyak goreng, kenaikan dipicu oleh kebijakan pemerintah pusat mengenai pelarangan pengedaran minyak curah per 1 Januari 2022 mendatang.

Pun larangan tersebut dicabut, kata Agus, lantaran kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) masih terjadi di pasar dunia. Nyatanya, harga minyak dalam negeri masih tinggi.”Ini masih menjadi penyebab utama, meskipun persediaan mencukupi,”pungkasnya.

Untuk komoditi telur sendiri, secara nasional harga pakan mengalami kenaikan, sehingga berpengaruh pada biaya produksi dari para peternak. Selain harga pakan, permintaan pasar yang begitu besar juga turut andil terjadinya kenaikan.

Menurutnya meskipun di Kabupaten Tuban jumlah produksi masih bisa mencukupi kebutuhan, akan tetapi harga secara otomatis mengikuti tren pasar. “Kami sebenarnya masih berkomunikasi dengan para peternak lokal, jika memang stok mencukupi, apakah ini karena harga pakan naik atau gimana,”timpal Kepala Diskoperindag.

Sedangkan, untuk komoditas cabaai rawit yang kini mencapai Rp 90 ribu perkilogram, Agus mengungkapkan jika kenaikan terjadi akibat tidak ada panen dalam dua bulan berturut-turut. Hal ini terjadi karena kondisi cuaca di mana curah hujan cukup tinggi, sehingga membuat petani tidak menanam dalam dua bulan terakhir. Otomatis, hal tersebut berdampak pada stok cabai rawit yang menipis.

“Kami cek di lapangan memang tidak ada panen, jadi produsen tidak bisa memenuhi permintaan. Padahal di bulan ini banyak yang mengadakan hajatan,”tuturnya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, setelah kemarin menggandeng PT. Wings untuk melaksanakan pasar murah di beberapa pasar di Kota Tuban, Pemkab akan kembali menggelar pasar murah minyak goreng yang bekerjasama dengan Bulog. Pasar murah ini difokuskan hannya untuk para pedagang atau UMKM yang bergerak di bidang makanan.

“Karena kemarin memang cakupannya masih sangat sedikit, sehingga banyak pedagang yang tidak bisa menjangkau pasar murah itu. Jadi, akan kami lakukan kembali,”bebernya.

Menurutnya, kenaikan harga minyak goreng telah mempengaruhi produksi UMKM lokal khususnya para pengusaha makanan. Untuk itu, agar diharapkan pasar murah dapat menstimulus masayrakat untuk bisa melanjutkan usaha.“Program pasar murah miyak goreng akan terus dilakukan selama harga miyak masih tinggi,”jelasnya.

Adapun nantinya, operasi pasar tak hanya dilakukan untuk komoditi minya goreng saja, akan tetapi telur, cabai rwait dan lainnya. Ini perlu, sebab dampak naiknya harga bahan makanan termasuk minyak goreng telah menyumbang inflasi dalam daerah sekitar 2 persen.

“Inflasi terjadi hingga 2 persen karena dipicu naiknya bahan makanan,” tutup Agus / Tul