kabartuban.com – Hasil pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku pengerusakan Masjid Baiturrahim di Jalan Sumur Gemol, Kelurahan Kingking, Kecamatan Tuban, pada Selasa dini hari lalu, sudah di dapat kepastikan jika yang bersangkutan dalam kondisi sakit, atau mengalami gangguan kejiwaan.
Kasat Reskrim Polres Tuban, AKP Iwan Hari Purwanto, menjelaskan, hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh tim dokter kejiwaan rumah sakit Bhayangkara Surabaya, terhadap pelaku yang bernama Ahmad Falih, warga Rembang Jawa Tengah, menyebutkan jika pelaku mengalami gangguan jiwa atau Skizofrenia Paranoid.
“Dari evaluasi tim dokter, ternyata memang mengalami gangguan,” terang Iwan.
Dijelaskan, Skizofrenia Paranoid adalah satu tipe skizofrenia, dimana pendeitanya akan mengalami delusi bahwa orang lain sedang bersekongkol melawan dirinya atau keluarganya. Penderita kebanyakan mengalami halusinasi suara, mereka mendengar suara-suara yang tidak nyata.
“Jadi aneh-anehlah, itu memang gangguan jiwa, tidak dapat dikatakan dia pura pura gangguan jiwa, hasil evaluasi tim dokter memang menderita gangguan skizofrenia tersebut,” terang Kasat Reskrim saat ditemui di Masjid Baiturrohim, usai mengikuti bakti sosial bersihkan masjid, JUmat (16/2/2018) pagi tadi.
Sementara itu, Ketua Takmir Masjid Baiturrohman, H Faisol Rozi, mengatakan soal pengerusakan tersebut tidak ada kaitanya dengan masalah lainya seperti issu SARA, seluruhnya murni insiden yang dilakukan oleh seorang yang mengalami gangguan jiwa.
“Tidak ada kaitanya dengan SARA, kami hidup berdampingan bertahun-tahun, dengan gereja yang ada disamping, memang kemarin itu kebetulan saja santri Gus Mad yang ada masalah kejiwaan,” katanya.
Terpisah KH Ahmad Muhammad Ainul Yaqin (Gus Mad), Pengasuh Pondok Pesantren Al Islahiyah Al Ghozaliah, mengatakan, jika yang bersangkutan memang mengalami gangguan jiwa, bahkan oleh keluarganya, maksud kedatangan pelaku adalah untuk menemui dirinya dengan maksud menenangkan diri pelaku yang mengalami gangguan jiwa.
“Yang bersangkutan itu pernah kesini, sekedar ngomong-ngomong, kemudian senin mau kesini lagi belum sempat ketemu sudah kejadian, pelaku itu memang sakit,” kata Gus Mad.
Sebagai tokoh agama, Gus Mad meminta kepada masyarakat tidak mengaitkan kejadian tersebut dengan issu apapun, karena kejadian tersebut murni insiden yang dilakukan orang dengan gangguan jiwa.
“Tidak ada keterkaitan dengan daerah lain, kami sampaikan, jika tidak tahu dengan peristiwanya tidak usah ngomong, takutnya nanti malah jadi bias,” katanya (Luk)
