Semen Indonesia Perluas Penambangan Lahan Produktif

459

lahanSIkabartuban.com – Keberadaan PT Semen Gresik (Sebelum menjadi PT Semen Indonesia Tbk) di Tuban terus berkembang hingga saat ini.  Peningkatan kwantitas produksi perusahaan plat merah tersebut berujung pada proses maksimalisasi penggunaan lahan yang telah menjadi milik PT SI.

Lahan produktif seluas 65 hektar yang dimiliki PT SI di Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban mulai dikosongkan dari aktifitas pertanian warga, untuk selanjutnya ditambang guna mencukupi kebutuhan bahan baku semen yang terus meningkat.

Akibatnya, para petani yang selama ini mengerjakan lahan produktif tersebut harus kehilangan sumber penghasilan yang selama ini diandalkan. Mereka harus menganggur lantaran tidak memiliki lahan garapan lagi, dan sebagian dari mereka memilih untuk menjadi buruh tani.

Salah satu perangkat Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak, Tuban, Cipwanto menyatakan, “Mulai awal tahun 2013, warga kami sudah tidak bisa mengerjakan lahan itu, dan dampaknya memang  baru terasa sekarang. Saat ini  mereka yang tidak punya garapan lahan lain terpaksa harus menganggur,”  .

Lebih lanjut diterangkan, dulu dari lahan yang sudah terlanjur dijual pada pihak PT SI, ada sekitar 170 petani yang mengerjakan lahan tersebut. “Sebagian masih ada yang memiliki garapan lahan lain, namun sebagian sudah tidak memiliki harapan lain. Sebagian dari mereka ada yang kemudian mengarap tanah persil milik perhutani, karena sudah tidak mempunyai lahan lagi,” Kata Cipwanto, yang menjabat Kepada Dusun (Kasun).

Sementara itu, dari sejumlah data yang dihimpun kabartuban.com menyebutkan, Lahan persawahan PT SI (waktu itu masih PT Semen Gresik, Tbk.) tersebut dibeli pada kisaran  tahun 1990-1991 dengan harga Rp 500,- sampai Rp 1500,- setiap meter per segi.

Sebelumnya PT SI memperbolehkan warga untuk mengerjakan bekas lahannya yang sudah dibeli PT SI hingga ujung tahun 2012 yang lalu, namun mulai awal tahun 2013 ini, mereka sudah dilarang bercocok tanam di lahan produktif tersebut.

Menurut pengakuan warga setempat, lahan mereka yang terlanjur dijual sangat murah kepada PT SI tersebut bisa memproduksi padi mencapai 8 ton per hektar. “Dulu saya tahu pasti, kenapa kami menolak menjual, karena pada saat panen hasilnya banyak, bisa mencapai 8 ton padi setiap hektarenya sekali panen,” kata  Kasmuji, yang saat ini mengaku menyesal telah menjual lahannya pada pihak PT SI.

Kepada kontributor media ini, Kasmuji juga mengaku bahwa pada proses pembelian lahan tersebut ada unsur paksa. “Pada saat pembeliannya dulu, tidak semua warga setuju. Sebagian warga ada yang ditakut-takuti oleh Calo. Bahkan ada mengancam akan diambil paksa jika tidak mau menjualnya. Jadi, banyak warga yang menjualnya dengan keadaan terpaksa,” terang Kasmuji.

Terkait dengan persoalan ini, pihak PT SI telah melakukan langkah-langkah sosialisasi kepada warga untuk mengosongkan lahan tersebut, karena akan segera dilakukan penambangan di area itu.

Dikonfirmasi terpisah, Zito Warsito yang juga Kepala Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak, mengatakan bahwa dengan adanya puluhan hektar lahan di desanya yang menjadi lokasi tambang Clay atau tanah liat untuk bahan semen itu dikawatirkan merugikan masyarakat desa. Kekawatiran Zito itu karena menurutnya, selama ini belum ada langkah antisipasi dari perusahaan atas warga yang kehilangan pekerjaannya.

“Seharusnya ada upaya dari PT SI untuk warga yang sudah tidak bisa mengarap sawahnya, karena dampak terberat bagi warga desa ini adalah kehilangan mata pencaharian sehari-hari,” Kata Kades yang pernah menjadi ketua PMII Cabang Tuban, saat masih berstatus Mahasiswa dulu.

Kades Zito yang juga sekretaris Asosiasi Kepala Desa (AKD) Kabupaten Tuban ini juga menerangkan, “Selama ini sosialisasi yang dilakukan oleh PT SI  hanya sekedar sosialisai dan memberitahukan bahwa tanah seluas 65 hektar tersebut akan segera dilakukan penambangan.”

“Kapan akan dikerjakan belum jelas, mereka hanya bilang kalau warga sudah tidak boleh mengarap lahan itu karena sudah mau ditambang,” lanjut Zito saat dikonfirmasi pada 28 pebruari yang lalu.

Terkait dengan keluhan warga Sugihan, Sekretaris Perusahaan PT SI, Agung Wiharto membenarkan kalau perusahaannya akan memperluas wilayah tambang khususnya untuk tanah liat sebagai bahan campuran pembuatan semen. “Benar mas, kita memang akan melakukan perluasan tambang pada area atau lahan milik kita yang saat ini masih dikerjakan warga,” Kata Agung saat dikonfirmasi melalui ponsel.

Lebih lanjut, Agung Wiharto menjelaskan bahwa tanah liat atau Clay yang dibutuhkan oleh perusahaannya tidak banyak, hanya sekitar 20 persen dari bahan utama atau batu kapur. Oleh karena itu, untuk tahun ini PT SI hanya akan melakukan perluasan tambang sekitar 45 Hektar saja.

“Sebenarnya tidak banyak, clay yang kita butuhkan hanya sekitar 20 persen saja, jadi kami berharap masyarakat yang selama ini mengerjakan lahan kita, akan kita ganti senilai hasil panen, baik yang sudah tanam atau yang belum melakukan tanam” terang Agung.

Terkait dengan sosialisi pada petani penggarap yang tidak dilakukan di kantor Desa, Agung mengaku bahwa sosialisi dengan cara tersebut dilakukan karena pihaknya kawatir dengan pihak-pihak yang akan memanfaatkan moment tersebut.

“Keterangan dari PKBL, mereka sudah memberitahukan pada desa dan ada perangkat yang ikut, sementara kenapa sosialisasi kita lakukan di lahan tambang yang saat ini dikerjakan warga, agar tidak ada pihak-pihak yang menungangi dan memperkeruh proses ini,” Terang Agung. (da/im)