Dampak Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Cukup Dirasakan Holcim

374

kabartuban.com- Holcim, Pabrikan semen asal Swiss yang sedang membangun pabrik di Tuban ini cukup merasakan dampak kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang mencapai level Rp 12 ribu per satu rupiah.Industri padat modal seperti Holcim, tentunya akan mengalami kenaikan biaya dalam bentuk denominasi Dolar Amerika. Hal tersebut tentunya akan berdampak pada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual semen.

Direktur Komersial Holcim Indonesia, Jan Kuningk dalam siaran presnya menjelaskan, nilai  tukar  rupiah  baru-baru  ini yang melemah hingga 20% terhadap Dolar Amerika,  merupakan  bentuk  reaksi  terhadap  defisit  transaksi berjalan, sehingga memicu  tingginya  permintaan Dolar Amerika. Karena repatriasi dan kewajiban pembayaran  utang  luar  negeri,  serta faktor eksternal dari kekhawatiran sebagian  pelaku  pasar  terhadap potensi pengurangan stimulus bank sentral Amerika.  Ditambah  lagi,  tingkat  inflasi  hingga November telah mencapai sekitar 8.3%.

“Holcim Indonesia mengalami kenaikan biaya yang  signifikan  untuk biaya iklan, distribusi, energi, dan upah di tahun 2013.  Biaya  keuangan  untuk  perluasan  Tuban  juga mengalami peningkatan karena  naiknya  suku  bunga  bank dan depresiasi rupiah dari pinjaman luar negeri,” ungkapnya.

Untuk  mengurangi  dampaknya,  Holcim  Indonesia  terus menjalankan program internal  untuk penghematan biaya seperti penghematan energy. Holcim terus memberikan  solusi  bernilai  tambah  bagi  konsumen  dengan  tetap menjaga kualitas demi mempertahankan    produk Holcim tetap kompetitif.

Di  tahun  2014  mendatang,  perusahaan  berharap  tingkat  inflasi  dapat berkisar antara 7.0-7.5%”. Proyeksi pasar dan kebutuhan perumahan kelas menengah yang terus meningkat. Kebutuhan  perumahan masih menjadi faktor utama dari permintaan pasar semen – dengan  adanya  tambahan  800,000 rumah yang dibutuhkan setiap tahunnya.

Sementara tingkat kredit kepemilikan rumah (KPR) terhadap PDB masih rendah, melemahnya  pertumbuhan  kredit  yang diakibatkan tingginya suku bunga, dan kondisi  dengan  tingkat  inflasi  yang  tinggi  akan berpotensi mengurangi permintaan.  Pertumbuhan  kredit  pada sembilan bulan pertama di tahun 2013 mencapai  23%,  tapi  Bank  Indonesia  berusaha memperlambat hingga 18-20% mencapai  kisaran  15-17%  pada tahun 2014.

Industri Semen dan sektor konstruksi dalam jangka menengah memiliki prospek yang  cerah.  Secara umum mengindikasikan pergantian pemerintah di semester kedua  tahun  2014, diperkirakan tidak akan berdampak banyak pada kebijakan pokok  makro  ekonomi.  Kebutuhan  perumahan  akan  tetap  ada,  keputusan pemerintah  untuk  mengatasi  inflasi patut diacungi jempol, dan Indonesia tetap  berada  dalam  tingkat  investasi  (investment  grade)  seperti yang dikeluarkan oleh Moody’s and Fitch. Perbandingan utang negara terhadap PDB tetap  berada  di  kisaran  25%,  ini  merupakan  pondasi  yang  kuat untuk pertumbuhan. (im)