kabartuban.com – Ingin menekan jumlah angka pengangguran, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Tuban kecewa lantaran upayanya tak disambut baik oleh perusahaan-perusahaan besar yang ada di ruang lingkup Kabupaten Tuban.
SMK sebagai sekolah yang mencetak lulusan siap kerja ternyata merupakan kontributor besar dalam menyumbang angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan tingkat pendidikan di Indonesia.
Berdasarkan data yang ada pada Badan Pusat Statistik (BPS), di data terakhir tahun 2023 tercatat sebanyak 9,31% TPT yang ada merupakan lulusan SMK, disusul oleh SMA sebanyak 8,15%, Universitas 5,18%, Diploma I/II/III 4,79%, SMP 4,78% dan 2,56% dari yang tidak/belum pernah sekolah/belum tamat dan tamat SD.
Namun, meski begitu rupanya berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan angka TPT, salah satu sekolah yang mengupayakan hal tersebut adalah SMK Negeri 2 Tuban.
Heny Indriana, Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Tuban mengungkapkan, selama masa kepemimpinan di Sekolah tersebut, ia mengupayakan berbagai hal untuk menyalurkan siswa-siswinya agar dapat bekerja sesuai dengan jurusan yang mereka ambil semasa menduduki bangku SMK dengan menggandeng ratusan perusahaan.
“Menggandeng beberapa perusahaan itu tidak hanya untuk penyaluran, bisa juga untuk penempatan Prakerin (Praktik Kerja Industri). Untuk pembinaan, misalnya ada guru tamu,” papar Kepala Sekolah SMK Negeri 2 Tuban kala ditemui media ini di ruangannya, Kamis (15/08/2024).
Hanya saja, penyaluran tenaga kerja ke perusahaan besar untuk sementara ini baru bisa dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan di luar daerah. Menurut yang disampaikan oleh Heny, hal ini dikarenakan perusahaan yang ada di daerah Tuban dirasa kurang terbuka terhadap recruitment para Pelajar SMK dan lebih memilih mengambil tenaga kerja dari ring satu.
“Kalo perusahaan-perusahaan di sini ini loh dia hanya mematuhi aturan bahwa pegawai-pegawai yang direkrut itu ada di ring satu, itupun adakah yang ditempatkan di tempat yang layak? Paling loh bagian tenaga kasar,” ucap Heny.
Ia dengan menggebu-gebu mengungkapkan kekecewaannya tersebut lantaran siswa-siswinya sulit untuk mendapatkan pekerjaan layak di perusahaan yang ada di wilayah Kabupaten Tuban.
Selanjutnya, untuk menyalurkan siswa-siswinya nanti saat lulus, Heny telah mengembangkan program kelas industri yang sebelumnya tidak terlalu ditonjolkan. Berdasarkan keterangannya, sebelumnya program kelas industri hanya ada pada beberapa jurusan saja. Namun, ketika ia mulai menjabat, Heny mengembangkan program kelas unggulan itu sehingga SMK Negeri 2 Tuban memiliki setidaknya satu kelas unggulan di masing-masing jurusan.
Dengan adanya program tersebut, para pelajar yang lulus dari SMK Negeri 2 Tuban memiliki peluang yang lebih besar ketika ingin melamar pekerjaan pada perusahaan-perusahaan yang telah bekerja sama dengan sekolahnya.
Heny juga menghadirkan staf Bursa Kerja Khusus (BKK), Mahfudlotin untuk menjelaskan lebih detail terkait penyaluran para pelajar siap kerja di SMK Negeri 2 Tuban.
“Di kelas 12 kita sudah selalu mengadakan recruitment, jadi begitu anaknya lulus sudah ada beberapa yang lolos tes di perusahaan,” ungkap wanita yang kerap disapa Bu Tin itu.
Tak hanya itu, dengan menyediakan lowongan kerja di sekolah tersebut juga merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menyalurkan tenaga kerja lulusannya sesuai dengan jurusan yang ada. Sebagai contoh, terdapat jurusan Tata Busana yang disediakan lowongan kerja menjahit baju seragam sekolah murid ajaran baru. Tentu upaya ini menjadi salah satu faktor yang membantu mengurangi angka pengangguran lulusan tingkat pendidikan SMK.
Hingga berita ini diterbitkan, dinas terkait belum memberikan keterangan dan pendapatnya terkait sulitnya keterbukaan perusahaan di wilayah Tuban dalam rekrutmen pegawai daerah lokal. (za/zum)