Memelihara Tradisi: Kupatan Pada Malam Nisfu Sya’ban

223
Foto Ilustrasi Sumber: internet

kabartuban.com Masyarakat di Kabupaten Tuban, Lamongan, Bojonegoro dan sekitarnya lekat dengan tradisi kupatan pada malam nisfu sya’ban yang jatuh pada tanggal 15 bulan sya’ban, pada tahun ini jatuh pada tanggal 24 Februari 2024. Tradisi kupatan ini merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman wali songo, sosok yang memperkenalkan ialah Raden Mas Sahid atau lebih di kenal dengan Sunan Kalijaga.

Mengutip dari laman alif.id Tradisi kupatan ini juga memiliki filosofi atau arti tersendiri yaitu kupat yang diartikan sebagai “ngaku lepat” istilah tersebut berasal dari bahasa jawa yang artinya mengakui kesalahan. Dengan kata lain dapat disimpulkan sebagai simbol pengakuan dosa atau kesalahan serta permohonan ampunan.

Pemilihan ketupat sebagai simbol tradisi karena banyaknya unsur makna yang terkandung di dalamnya. Misalnya, bahan ketupat yang dirangkai dari daun janur yang diinterpretasikan dari kata Ja’a Nur yang bermakna datangnya pertolongan dari Allah. Selain itu, ketupat memiliki empat atau enam sisi. Keempat sisi tersebut melambangkan perjuangan empat sahabat Nabi yang disebut khulafaur rasyidin, sementara ketupat yang memiliki enam sisi melambangkan jumlah rukun iman.

Selain ketupat, terdapat juga hidangan lain yang menjadi bagian khas dalam perayaan malam Nisfu Sya’ban, seperti lontong dan lepet. Lontong dan lepet juga memiliki makna tersendiri, dimana lontong melambangkan kekosongan dan lepet melambangkan kekuatan iman. Dengan kata lain, sebelum seseorang memiliki iman, dia seperti lontong yang kosong dan rentan melakukan kesalahan. Ketika seseorang menerima iman, seperti mengisi lontong dengan ketupat dan memohon ampunan kepada Allah, kemudian melalui lepet iman tersebut diikat dan diperekat, sehingga menjadi lebih kuat dan kokoh.

Dalam ajaran Islam malam Nisfu Sya’ban adalah malam dimana catatan amal setiap manusia akan dilaporkan kepada Allah SWT. Malam Nisfu Sya’ban adalah dimana malam dibukanya 300 pintu rahmat dan pintu ampunan oleh Allah SWT untuk manusia.

Pelaksanaan tradisi kupatan ini biasanya berada di masjid-masjid atau mushola terdekat. Ada yang memulai acara setelah sholat magrib ada pula yang melaksanakannya selepas isya’, dengan cara dido’akan bersama-sama kemudian memakannya beramai-ramai dan membawa pulang kembali sisa ketupat yang tidak habis. (fah/zum)

/