Filosofi Di Balik Patung Sembilan Kuda

Kabartuban.com – Wajah baru dari ikon kota tuban sudah mulai terlihat di bundaran seleko,  Nampak  ada  9 Patung kuda yang menjulang ke atas dan berada tepat di bundaran, Jika dulu yang ada di bundaran tersebut adalah ikan maka sekarang adalah Sembilan kuda, Tak hanya itu Sembilan kuda tersebut juga memiliki filosofi tersendiri,  Rabu (22/12/2021).

Janjang Perdikari selaku pembuat patung kuda tersebut menyampaikan bahwa dirinya dapat pesanan patung kuda ini dari getok tular dari temanya, beliau ditawari untuk membuatkan patung kuda sebanyak 9 dalam jangka waktu 2 bulan, lalu bliau menyanggupinya.

Abah Janjang sapaan akrabnya juga menyampaikan menurutnya filosofi dari 9  patung kuda tersebut, bahwa patung tersebut merupakan simbol kekuatan dari bawah “Seperti kekuatan dari bawah, ya bentuk semngat gitu lah, semangat kebersamaan untuk menuju keatas, jadi kekokohanya dari bawah itu” Ungkapnya .

Pasalnya sudah sejak kecil dirinya mengenal dunia seni, jadi tak heran jika dirinya yang terpilih untuk mengerjakan proyek tersebut.

Pria kelahiran Sidorejo itu mengungkapkan   jika menggenal  dunia seni sejak kecil dan mulai menggeluti nya pada tahun 1986-1987 hingga mendapat pesanan pertama untuk klenteng  Kwan Sing Bio hingga pernah mendapat job pembuatan patung naga sebanyak 40 di  Ciamis “Pada tahun 86-87 itu mulai menggeluti membuat patung, melukis, hinga akhirnya dapat job membuat patung-patung yang ada di kelnteng itu, dan pernah juga  membaut 40 sama relief-relief lainya di Ciamis ” Tambahnya kepada reporter kabartuban .com.

Untuk saat ini bliau masih mengerjakan pembuatan patung balet untuk taman seleko juga, dalam mengerjakan bliau sering merasa bosan dan untuk menghilangkan rasa bosanya tersebut bliau menggalihkan kegaiatanya.

Dalam pengerjaan bliau dibantu oleh 2 karyawanya sehingga bisa cepat selesai dan mencapai target pengiriman, dan pemesanan tak hanya dari dalam kota saja namun juga dari luar kota  “Ada 2 orang yang membantu saya, kalau untuk pesanan ya bisa dari luar kota juga, biasanya dia yang kesini” Tutupanya. (nat/din)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker