Kerajinan Tikar Pandan Belum Mati

1092

Kabartuban.com — Sudah nyaris tak ditemui orang yang tertarik menggunakan tikar pandan saat ini, kecuali untuk keperluan-keperluan tertentu. Tikar bikinan pabrik berbahan plastic atau lainnya lebih menarik, lantaran selain lebih praktis, lebih rapi bikinannya, corak dan modelnya pun lebih beragam. Tetapi factor penyebab utama semakin terpinggirkannya tikar pandan, menurut Edy Thoyibi, Direktur LKPSDA CAGAR, adalah semakin tipisnya ketersediaan bahan baku. “ Populasi tumbuhan pandan semakin berkurang, bahkan bisa dibilang sudah sangat mengkhawatirkan. Dulu di sepanjang pantai itu banyak pandannya, tapi sekarang rusak parah dan hanya tersisa beberapa batang lantaran tidak ada kepedulian melindunginya,” papar Edy Thoyyibi.

Para perajin tikar pandan yang saat ini masih aktif mengatakan hal serupa. Di sejumlah desa yang diketahui sebagai tempat produksi tikar pandan saat ini hanya tinggal beberapa orang perajin yang tersisa.

Di Dusun Bawi, Desa hargoretno, Kecamatan Kerek, misalnya. Menurut pengakuan Mbah Warsilah (85), salah seorang perajin, 240 keluarga yang tinggal di dusun ini, dahulu hampir seluruhnya menganyam tikar pandan. “ Tapi sekarang mungkin ya tinggal 10 keluarga yang masih nganyam. Yang lainnya sudah nggak ada yang mau. Pandannya sulit,” kata Mbah Warsilah.

Pengakuan Mbah warsilah, minat masyarakat sebenarnya masih lumayan bagus terhadap tikar pandan. Terbukti masih banyaknya pesanan yang datang. Pengerjaannya pun tidak terlalu rumit. Kata Mbah Warsilah, hanya butuh waktu tiga hari untuk menyelesaikan selembar tikar ukuran 2 x 1,3 meter .

Namun waktu penyelesaian bakal lebih lama jika musim tanam atau panen tiba. Mbah Warsilah mengaku, menganyam tikar hanyalah pekerjaan sampingan. Perkerjaan utamanya, tetap mengolah sawah. Namun tidak jarang anyaman tikar menjadi harapan pendapatan utama, saat sawah tadah hujan yang digarapnya tidak memberi hasil, seperti musim ini.

Menurut Saringah (62), tetangga Mbah Warsilah, pekerjaan membuat tikar pandan tersebut sudah dikerjakan masyarakat Bawi ratusan tahun lalu. Saringah sendiri mengaku mendapat warisan ketrampilan menganyam tikar pandan dari almarhum ibunya, yang konon juga mendapat warisan serupa dari neneknya. Namun seiring waktu, pewarisan ketrampilan itu tidak lagi berjalan mulus. ” Anak-anak muda ndak minat nganyam tikar. Jadi ya sekarang tinggal yang tua-tua yang ngerjakan,” terang Saringah.

Selain ancaman keterputusan regenerasi, perajin tikar pandan di Bawi juga terancam kekurangan bahan baku, yang menyebabkan produktivitasnya kian waktu kian menurun. Padahal, kata Saringah, peminat tikar Bawi masih cukup banyak. Harganya pun lumayan menjanjikan, Rp 15-20 ribu/lembar untuk ukuran sedang, sedang ukuran besar Rp 60 ibu/lembar. ” Pandannya makin dikit yang tumbuh,” kata Saringah.

Untuk bisa mendapat pandan sebagai bahan baku tikar, Saringah harus mengeluarkan uang sedikitnya Rp 10 ribu. Uang sebesar itu saat ini hanya dapat pandan satu gendongan, atau sekitar 100-an lembar daun pandan. Dengan pandan sebanyak itu, Saringah mampu menghasilkan 3 lembar tikar ukuran sedang selama 10-15 hari. ” Yang lama itu “ngirat” (membelah daun pandan menjadi lembaran-lembaran kecil,red) dan mengeringkannya. Kalau sudah mulai nganyam sudah ringan,” kata Saringah.

Perajin lain yang masih lumayan produktif adalah Darning (53) dan mertuanya, Lasmi (87). Pesanan perajin ini lumayan banyak. Bahkan mereka mengatakan sering pemesan memberi uang terlebih dahulu. ” Mungkin kuatir kalau nanti nggak kebagian barang. Jadi uangnya dikasih dulu, besok barangnya tinggal ngambil,” kata Darning.

Para pemesan umumnya dari daerah pesisir seperi Tambakboyo, Bancar, Jenu hingga Palang. Tak jarang juga datang tengkulak dari Bojonegoro dan Rembang, Jawa Tengah. Namun kendati pesananan tidak pernah sepi, kehidupan para perajin tikar pandan tetap berada di bawah garis kemiskinan. Darning mengaku hasil dari menganyam tikar pandan itu sebenarnya jauh dari cukup. Itulah mungkin yang menjadi alasan bagi para laki-laki di tempat itu enggan ikut serta menganyam tikar. Total pekerjaan produksi tikar, dari mencari pandan sampai menganyamnyan dikerjakan perempuan. Sedang laki-lakinya fokus mengerjakan sawah. ” Kalau dihitung-hitung ya gak imbang sama ribetnya ini, nak. Kalau nggak ngerjakan sawah, ya nggak bisa ngejar kebutuhan,” kata Darning.

Baik Darning, Saringah, Mbah Warsilah maupun perajin lain yang ditemui kabartuban.com, mengaku tidak pernah sekalipun mendapat uluran tangan Pemerintah maupun lembaga-lembaga non Pemerintah. PT Semen Gresik, Tbk, memang pernah memberi bantuan untuk warga Bawi. Tetapi, kata Samijan, salah seorang perangkat dusun, bantuan dari BUMN itu bukan untuk kerajinan tikar pandan. ” Yang dibantu cuma yang bikin kue. Yang bikin tikar ndak ada bantuan,” kata Samijan.

Samijan tentu saja sangat berharap Pemerintah atau pihak manapun sedikit peduli pada nasib perajin tikar pandan di Dusun Bawi itu. Sebab tanpa adanya uluan tangan dari pihak-pihak yang peduli, kerajinan tikar pandan Dusun Bawi bisa jadi bakal gulung tikar sendiri. ” Sekarang masih bisa bertahan, tapi lama-lama ya bakal habis. Apalagi sekarang tikar dari pabrik harganya juga makin murah,” kata Samijan. (bek)