Kopiah Batik Tuban Diminati Pasar Internasional

kabartuban.com – Karena mempunyai nilai keunikan sendiri, kopiah atau Songkok batik produksi warga Desa/Kecamatan Rengel diminati pasar internasional dibandingkan kopiah jenis dan motif lain.

“Saat ini, permintaan kopiah batik di dominasi di Malaysia, Singapura, Brunei dan Arab Saudi,” ujar Narko Affandi, pemilik pemilik usaha Kampung Karya kepada kabartuban.com, Jum’at (18/5/2018).

Ia menjelaskan permintaan kopiah batik di pasar internasional mencapai 500-1200 biji perbulan, sementara untuk pasar nasional sampai 2. 000 biji perbulannya.

“Kapasitas produksi kita untuk melayani permintaan pasar nasional maupun internasional capai 1500-2000 biji kopiah perbulan,” tambahnya.

Bapak dari satu anak ini menambahkan, sebagai lulusan salah satu pesantren di wilayah Rengel, hobinya mengkoleksi kopiah. Setelah lulus dari pesantren dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di STITMA Tuban, ia tertarik ada seseorang menggunakan kopiah yang bermotif batik, sehingga ia mencoba untuk membawa kain perca batik dan di bawa ke tukang jahit.

“Setelah lihat kok menarik, kopiah motif batik, dan bisa memanfaatkan potongan kain sisa,” tambahnya.

Dari hal seperti itulah, suami dari Mar’atus Zahro memulai, dengan bekal dari uang mahar untuk menikahi istrinya, ia membeli mesin jahit dan belajar secara otodidak. Ia merintis usaha pada tahun 2011 sebagai usaha sampingan dan berselang empat tahun ia mempunyai satu karyawan.

“Saat ini saya memiliki 10 tenaga kerja, 7 orang untuk produksi dan 3 orang penasaran, dan hingga kini karyawan yang di pekerjakan untuk produksi bisa mengerjakannya di rumah, ” terangnya.

Selain itu, lulusan dari STITMA pada tahun 2015 ini juga mendapatkan penghargaan 10 besar kategori kreatif santripreneur Award 2015 di Jakarta, dan dari usahanya dia bisa mendapatkan omzet rata-rata Rp15 juta perbulan.

“Pemasaran yakni secara konvensional yaitu di toko-toko makam wali dan pondok, saya juga menggunakan secara online, lewat media sosial dan sebagainya,” paparnya.

Pihaknya juga berupaya terus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin luas. Untuk itu ia melibatkan banyak tenaga kerja sebagai team produksi.

” Target kita kedepan adalah berupaya memproduksi kopiah sebanyak 1000 buah perharinya,” harapnya.

Sementara salah satu pembeli Choirudin asal Rembang Jawa Tengah mengaku sangat berminat ingin tahu tempat produksi dari kopiah batik yang mempunyai nilai ke khasan ini.

“Saya tertarik mas, karena varian warna dan motif, jadi sangat jarang bisa sama dengan yang lainnya. Selain itu, harganya juga sangat terjangkau mulai Rp15 ribu – Rp30 ribu perbiji, tergantung motifnya,” sambungnya. (Dur)

Populer Minggu Ini

Pemutakhiran Barcode Biosolar Dinilai Tepat Sasaran, Pakar Dukung Langkah Pertamina

kabartuban.com - Pemutakhiran data barcode untuk pembelian Biosolar dinilai...

DPRD Tuban Soroti Limbah Cucian Kuarsa di Jenu, Sungai Dangkal, Petani–Nelayan Tercekik

kabartuban.com - Gelombang keluhan warga Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban,...

Meski Izin Menggantung, Kirab Kimsin di Kwan Sing Bio Tuban Tetap Diserbu Ribuan Pengunjung

kabartuban.com - Di tengah ketidakpastian izin keramaian dari kepolisian,...

May Day 2026 di Tuban, Ribuan Buruh Turun ke Jalan, Bupati Janjikan Realisasi Semua Tuntutan

kabartuban.com - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day...

DLHP Sidak 25 Titik Cucian Kuarsa, Dampak Lingkungan Jadi Sorotan

kabartuban.com - Ancaman kerusakan lingkungan di wilayah pesisir utara...

Artikel Terkait