Makanan Pabrikan Picu Inflasi

386
tren naik harga makanan kemasan pabrik sebabkan inflasi (foto:mahesajenar)

kabartuban.com–Rencana kenaikan harga BBM benar-benar dimanfaatkan pabrikan makanan. Kendati rencana itu urung direalisasikan, pabrikan makanan tetap menaikkan harga produksinya. Minyak goreng kemasan, misalnya. Menurut laporan Dinas Perekonomian dan Pariwisata (Diperpar) Tuban, Jum’at (4/5), mengalami kenaikan harga sebesar 22,73 %. Minggu lalu harga minyak pabrikan ini tercatat Rp 11.000/liter, saat ini telah berada di posisi Rp 13.500/liter. Komuditi pabrikan lain tak jauh beda. Catatat Diperpar, semua komuditi makanan pabrikan mengalami kenaikan harga rata-rata 20-25 % selama seminggu terakhir.

Menurut Farid Achmadi, Kepala Diperpar, tren naik harga produk makanan pabrikan itu murni akibat rencana kenaikan BBM. Memang harga BBM dalam negri masih belum naik, tetapi harga minyak dunia telah mengalami kenaikan. ” Bahan makanan pabrik itu kan banyak yang diimpor dari negera lain. Karena harga minyak internasional sudah naik, meski di sini BBM belum naik, ya tetap saja berpengaruh terhadap biaya produksi. Karena itu harga makanan pabrikan tren-nya naik terus karena cost produksinya juga naik,” jelas Farid Achmadi.

Tren naik harga makanan pabrikan itu, lanjut Farid Achmadi, menyebabkan inflasi tetap terjadi meski komuditi lain mengalami penurunan harga saat ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, angka inflasi Jawa Timur saat ini hanya sebesar 0,16 %. Memang masih terbilang kecil bila dibanding waktu-waktu sebelumnya. Bahkan pada September 2011, angka inflasi sempat mencapai 1 % lebih. Tetapi sekecil apapun, kata Dwi Hendro Sukiswo, Kepala Bagian Statistik Distribusi BPS Tuban, inflasi tetap harus diwaspadai. Dwi Hendro memprediksi inflasi akan terjadi lagi pada Mei-Agustus, dengan prosentase yang mungkin lebih besar dari inflasi saat ini.

Hendro beralasan, inflasi saat ini relatif kecil lantaran selain makanan kemasan pabrikan, komuditi-komuditi penyumbang inflasi lainnya tidak banyak mengalami perubahan harga. Bahkan komuditi pangan utama seperti beras, jagung, palawija dan kelompok sayur-sayuran, mengalami kecenderungan harga menurun. Beras mengalami penurunan 0,0436 %, jagung mengalami penurunan 0,0428 %, sedang kelompok sayur-mayur mengalami penurunan rata-rata 0,0066 %. ” Hanya Cabe yang mengalami kenaikan, yakni dari Rp 16.000 per Kg minggu lalu, saat ini Rp 17.000 per Kg,” kata Dwi Hendro.

Kelompok lain yang memberi andil besar terjadinya inflasi adalah perumahan dan gula. Perumahan memberi kontribusi inflasi sebesar 5,0137 %, sedang gula sebesar 0,0619 %. (bek)