Masih Banyak Warga Tak Mampu Makan Nasi Beras Setiap Hari

362
foto : wookey.com

Ekspedisi Kuda Hitam, kabartuban.com – Kabupaten Tuban yang memiliki luas wilayah darat 183.994.561 Ha, dan wilayah laut seluas 22.068 km2 ini, ternyata belum semua rakyatnya makmur. Berbagai Sumber Daya Alam (SDA) di Tuban ternyata belum dimaksimalkan untuk kesejahteraan rakyat.

Di tengah hiruk pikuk pemerintahan baru di Tuban, kabartuban.com menyempatkan diri untuk menjelajahi salah satu Kecamatan di Kabupaten Tuban. Kecamatan Soko berjarak 32 km dari pusat Kota Tuban. Redaksi mengunjungi beberapa desa dan ingin mengetahui kondisi sosial yang ada di Kecamatan yang di atas tanahnya berdiri Perusahaan Petrochina tersebut.

Ketika malam tiba, suasana di beberapa desa tampak hening. Redaksi pun memutuskan diri untuk menginap di salah satu kediaman warga Desa Wadung Kecamatan Soko. Mereka menyambut dengan ramah. Warga di sini menceritakan kondisi yang ada di desanya. Mayoritas warga desa adalah petani. Tidak sedikit warga desa ini yang mengadu nasib di kota – kota besar, bahkan menjadi TKI di luar negeri.

Nurul, salah seorang pemuda desa mengatakan bahwa kesejahteraan warga di sini masih belum merata. “Kalau tanya soal kesejahteraan, saya pikir belum mas. Wong di sini masih banyak warga yang tidak mampu setiap hari makan nasi. Sebagai penggantinya, banyak warga setiap hari makan nasi jagung”.

Lebih lanjut nurul menceritakan bahwa kalau dihitung – hitung penghasilan petani di sini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap hari, sehingga banyak yang tidak bisa makan nasi setiap hari. “Untuk mengirit biaya hidup, terpaksa banyak yang memilih untuk makan nasi jagung”, ungkap Nurul.   

Beberapa warga dan pemuda yang ada digubuk kecil itu diam syahdu mendengarkan cerita Nurul. Dari sorot mata mereka seolah membenarkan apa yang dikatakan Nurul, membantah sedikit pun tidak.

Minggu (13/5), Angin sepoi pagi tadi menemani redaksi menyusuri bukit – bukit batu dan pematang sawah. Di atas perbukitan terlihat tanaman cabai yang merah merekah. Salah seorang Petani yang ditemui redaksi mengatakan, “Hasil cabai di sini bagus – bagus mas”. “Lumayanlah untuk tambahan biaya hidup”. katanya.

Selain dari pertanian, salah satu potensi SDA yang bisa dikembangkan adalah penambangan pasir kwarsa. “Namun potensi itu juga belum bisa diandalkan untuk peningkatan kesejahteraan warga”, kata Nurul. Lebih lanjut Nurul menceritakan bahwa ada pengusaha dari Bojonegoro yang hendak mengerjakan penambangan pasir kwarsa itu, namun masih banyak kendala yang dihadapi.

Trenyuh melihat banyaknya warga yang masih hidup di bawah standart kelayakan. Rumah – rumah di daerah yang juga penghasil batu kumbung itu masih banyak yang terbuat dari bambu.

Sejuk dan tenang suasana di desa itu, jauh dari hiruk pikuk kota. Semua masih terlihat natural dan penuh keheningan. Daerah yang merupakan salah satu basis kemenangan Bupati dan Wakil Bupati terpilih saat ini, sepertinya masih memerlukan sentuhan sosial yang cukup besar.

Samidi, salah seorang warga Desa Wadung menceritakan, “Dulu waktu Pilkada di sini Pak Huda (Bupati) menang mutlak mas. Saya termasuk orang yang mati – matian memperjuangkannya”. “Kami berharap ada perubahan yang lebih baik”, kata Samidi.

Di akhir perjalanan Nurul mengatakan kepada redaksi, “Saya berharap ada peningkatan kesejahteraan ekonomi di sini mas, Ironis jika di sini merupakan salah satu daerah penghasil beras, tapi banyak waga yang tidak mampu makan nasi beras setiap hari”.

Ini adalah awal perjalanan “Ekspedisi Kuda Hitam”. Berawal dari Kecamatan paling Timur, kabartuban.com berharap bisa melihat secara langsung realitas sosial di Kabupaten ini. Untuk menjadikan Tuban lebih baik, berbagai pihak harus bersatu padu menggandengkan tangan, dengan penuh ketulusan hati memperjuangkan kesejahteraan rakyat Bumi Ronggolawe. (iim)