Minat Generasi Muda Tuban pada Sektor Pertanian Rendah, Ini Alasannya

47
Suyanto Kepala Seksi Kelembagaan dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tuban

kabartuban.com – Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi seluruh masyarakat. Produk pangan yang berasal dari padi tersebut merupakan salah satu produk yang bergantung pada tangan para petani.

Seperti halnya di Kabupaten Tuban yang mayoritas masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani tersebut. Namun, hingga saat ini cukup banyak ditemui petani dengan usia yang cukup tua. Hal ini lantaran petani dengan usia muda masih sedikit yang mau berkecimpung ke dalam dunia pertanian.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Seksi Kelembagaan dan Penyuluhan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Tuban Suyanto jika untuk data petani yang ada di Kabupaten Tuban di Tahun 2022 ini sebanyak 223.971 orang.

“Rata-rata memang usia sudah tua sedangkan untuk usia muda yang termasuk petani millenial dengan interval umur 19-39 tahun ini kurang lebih 40% dan mereka sudah bergabung dengan kelompok tani yang ada,” jelasnya saat ditemui oleh media kabartuban.com, Kamis (8/12/2022).

Baca juga : Diduga Tak Bisa Berenang, Pelajar Tuban Tenggelam di Telaga Saat Memancing

Menurutnya, alasan mengapa petani millenial memiliki prosentase yang rendah dikarenakan salah satu faktor yaitu kurangnya minat anak muda pada dunia pertanian.

“Persepsi mereka bahwa dunia pertanian ini pekerjaan melelahkan, kemudian identik dengan kotor serta hasilnya lama,” terangnya.

Faktor selanjutnya adalah persepsi bahwa setelah menempuh pendidikan di luar desa maka selanjutnya anak muda akan melanjutkan mencari pekerjaan di luar kota.
Dalam penyelesaian hal tersebut pihaknya berharap ada strategi-strategi yang mampu mengajak para petani millennial untuk terjun secara langsung dan mencintai dunia pertanian

“Anak-anak muda atau petani millennial inilah yang selanjutnya melanjutkan sebagai generasi untuk pertanian kedepan, oleh karena itu jika tidak kita awali atau kita rintis atau berdayakan di tahun mendatang akan susah,” harapnya.

Sementara itu salah satu petani millennial dari Desa Merakurak, Yoga Cipta Pratama juga membenarkan beberapa faktor yang menyebabkan petani muda cukup sedikit peminatnya.

“Sebenarnya banyak faktor yang mendasari keengganan anak muda untuk bertani. Bertani problemnya sangat kompleks, mulai dari krisis iklim, hama, pupuk, harga jual hasil panen, obat obatan pertanian, lahan pertanian, dan tentunya buruh tani yang masih ada. Dibandingkan dengan karyawan pabrik, bertani dewasa ini dianggap tidak menjanjikan hasilnya terlebih inflasi yang kita hadapi sekarang ini, sedangkan karyawan atau buruh pabrik tiap bulan gaji sudah pasti berikut tunjangannya,” jelasnya.

Tidak dipungkiri jika memang bertani membutuhkan tenaga ekstra apalagi saat persiapan musim tanam, musim tanam, pasca tanam hingga panen. Rentetan kegiatan tersebut juga membutuhkan modal yang tentunya nanti hasil tanam belum bisa ditebak mendapat berapa.

“Padahal bertani itu keren, kerennya terletak pada bagaimana menjadi seorang petani yang menghasilkan suatu komoditi dan komoditi itu sangat dibutuhkan oleh banyak orang,” tegasnya.

Petani muda di tuban saat berbincang santai

Baca juga : Pembangunan Jalan Tol Gresik-Lamongan-Tuban Akan Dibangun Tahun 2023

Kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tuban ia berharap ada edukasi kepada generasi muda terutama yang menjadi anak petani agar tahu dan bisa bertani. Sangat diharapkan adanya pendidikan dan pelatihan di bidang pertanian dan pengolahan hasil pertanian agar bertani tidak sebatas pekerjaan tentang tanam, merawat, dan memanen, tetapi bisa lebih kepada memanfaatkan hasil panen supaya memiliki nilai tambah dalam pemasaran nya.

“Di samping itu jaminan akan ketersediaan benih, obat-obatan, pupuk, irigasi, stabilitas harga, dan sebagainya harus benar-benar diperhatikan mengingat bertani itu sangat tidak mudah dan sangat tidak bisa dipastikan. Harga bagus namun kualitas hasil panen jelek, sebaliknya kualitas hasil panen bagus namun harga jelek, ini yang dirasakan para petani sampai saat ini,” tegasnya.

Dengan pemenuhan kebutuhan petani yang dicukupi oleh pemerintah, maka keengganan anak muda untuk turut serta menjadi petani muda tidak perlu khawatirkan lagi. (hin/dil)