Museum Kambang Putih Masih Dianak Tirikan

455

kabartuban.com— Seperti yang sering tergambar dalam dongeng, anak tiri tentu bukan status yang menguntungkan. Kumal, tak terawat, dan selalu mendapat perlakuan kurang menguntungkan. Nasib Museum Kambang Putih Tuban tak beda dengan si anak tiri itu. Kendati berada tepat di pusat Pemerintahan Kabupaten Tuban dan persis di pintu masuk Situs Makam Sunan Bonang, keberadaannya seringkali luput dari perhatian. Gedung megah berparas eropa yang sempat digunakan untuk gedung DPRD pada era 70-80-an itu seolah hanya tumpukan batu yang tidak memiliki makna apa-apa. “ Masyarakat kebanyakan masih memandang museum sebagai tempat menyimpan barang-barang kuno saja. Tidak ada yang menarik,” kata Santi Pujirahayu, Kepala UPTD Museum Kambang Putih, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Tuban, Selasa (22/5).

Parahnya lagi, ternyata bukan hanya masyarakat umum yang memiliki pandangan demikian. Pejabat Pemerintahan pun masih banyak yang memandang keberadaan museum kurang memiliki arti penting. Museum bukan tempat yang mampu diharap memberi sumbangan pendapatan, tetapi justru menghabiskan dana APBD lantaran untuk biaya perawatan gedung dan benda-benda koleksinya butuh biaya tidak sedikit. Mungkin inilah yang menjadi sebab Museum Kambang Putih tak pernah mengalami perkembangan, dan bahkan terkesan dibiarkan tenggelam oleh hiruk-pikuk lalu-lintas dan wisata kota.

Santi Pujirahayu mengatakan, untuk biaya perawatan 3.848 benda koleksi yang tersimpan di Museum Kambang Putih, Pemkab Tuban hanya mengalokasikan anggaran Rp 40 juta per tahun. Alokasi anggaran itu sudah termasuk belanja pegawai atau tenaga perawatnya. Menurut Santi Pujirahayu, setidaknya butuh Rp 100 juta per tahun untuk biaya perawatan benda-benda koleksi itu. Lantaran terbatasnya anggaran perawatan itu, kata Santi Pujirahayu, banyak benda koleksi yang tak terawat, terutama yang berbahan kayu. “ Wayang Krucil ini juga mulai rusak dimakan rayap (anai-anai,red). Kalau dibiarkan begini ya bisa habis koleksi kita,” kata Santi Pujirahayu.

Vitrin atau alamari tempat display benda koleksi kondisinya juga memprihatinkan. Selain ukuran dan bentuknya yang menurut Santi Pujirahayu kurang sesuai, sejumlah vitrin juga terlihat rusak. Ditambah dengan kondisi ruangan yang pengap dan lembab lantaran beberapa titik langit-langitnya bocor, memang sangat beralasan bila Museum Kambang Putih dijauhi pengunjung, meski untuk bisa melihat-lihat seluruh benda koleksi di museum itu tidak perlu mengeluarkan uang se-perak pun.

Dari catatan buku tamu, tahun 2011 lalu museum itu dikunjungi 6.917 orang. Sedang tahun ini, hingga April kemarin, sebanyak 3.711 orang sudah berkunjung ke museum ini. “ 80 persen pelajar. Kami memang bekerjasama dengan pihak sekolah, terutama guru sejarah. Ya murid-murid sekolah itu yang banyak berkunjung ke mari waktu mendapat tugas dari guru sejarahnya,” kata Santi.

Santi Pujirahayu menyadari sangat tidak gampang menarik minat pengunjung non pelajar. Terlebih dengan kondisi museum yang masih kurang memberi daya tarik dan kenyamanan itu. Oleh karena itulah Santi Pujirahayu fokus pada perbaikan sarana gedung dan perangkat keras museum lainnya. Hal lain yang menjadi perhatian serius-nya adalah keberadaan ratusan becak wisata yang parkir di sektiaran museum. Becak-becak itu jelas sangat mengganggu arus keluar masuk pengunjung museum. Bahkan tak jarang pula pintu museum tertutup becak, menyebabkan pengunjung makin kesulitan untuk masuk dan keluar dari gedung itu. “ Saat ini pintu yang dibuka hanya sebelah timur yang sebenarnya sebagai pintu keluar. Pintu masuk sebenarnya kan dari utara, tapi terpaksa ditutup karena dipenuhi kios PKL,” keluh Santi.

Santi mengaku telah mengajukan anggaran Rp 32 juta untuk langkah awal perbaikan museum. Dana sebesar itu sedianya untuk mengganti tiga unit vitrin yang kondisinya sudah sangat parah. Santi sendiri memperkirakan sedikitnya Rp 1 Milyar dana yang dibutuhkan untuk bisa mempercantik museum dan mengembalikan fungsinya sebagai sebuah institusi pelestari peninggalan purbakala, bukan sekedar gedung tempat penyimpan benda-benda kuno yang ditemukan. (bek)